AIRLANGGA DAN BIDIKMISI KU


Sebuah kisah yang menghantarkanku kepada almamater tercinta dengan beasiswa Bidikmisi


“Terimakasih kepada : Allah SWT beserta Rosulullah SAW, Univesitas Airlangga, Beasiswa Bidikmisi, keluarga di kota tercinta, Bojonegoro (Almh.Ibu,Bapak,dan adik-adikku), Keluarga besar SMANModel Terpadu Bojonegoro (Bu Yuli, Bu Dina,Bu Yayuk,Bu Ami,dll), Airlangga Bojonegoro University (ABC), Teman-teman Yakult (Rininta UMM, Intan UM, Ika,Hanum STKS, Janitra STKS), Teman-teman Scooter, Keluaga Mahasiswa Nahdlotul Ulama (KMNU) UNAIR, Ustadz Afri Adiarto, Jamaah Majlis Ahbaaburrasul (MAR) Surabaya, AcSES FEB UNAIR, Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), AUBMO (Airlangga University Bidikmisi Organization), AKS1 Angkatan 2014, Agung Haris Fadilah (Al-Azhar Mesir), dan teman-teman semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu”. http://www.unair.ac.id/

“Di Timur Jawa Dwipa
Megah engkau bertahta
Ksatria Airlangga, KusumaNegara
Dari engkau kudapat, budaya pusaka
Airlangga engkau permata
Indonesia raya”
              Begitu indah syair yang berkumandang di bumi Airlangga, seindah perasaanku tatkala aku diberi kesempatan menjadi bagian dari kampus yang memiliki motto “Excellent with Morality” ini. Airlangga baru sampai telinga ketika di SMA kelas X, ketika ORMADA asal Bojonegoro, Airlangga Bojonegoro Community (ABC) melakukan sosialisasi Universitas di sekolahku. Ku dengarkan dengan seksama setiap apa yang dijelaskan oleh kakak-kakak mahasiswa Universitas Airlangga asal Bojonegoro. Dari situ, aku mulai tertarik untuk kuliah di Universitas Airlanga. http://bpp.unair.ac.id/ketentuanlomba
              Teringat akan usaha dalam seleksi masuk perguruan tinggi pada 2014 lalu. Mulai SNMPTN yang nihil, tes STAN yang gagal, tes mandiri UM yang harus kutingalkan karena biaya yang tak terjangkau, hingga SBMPTN yang menghantarkanku pada S1 Akuntansi Universitas Airlangga, sebuah prodi yang menjadi jembatan dalam perjuananku meraih asa. Aku sangat bersyukur bisa menuntut ilmu di UNAIR, sebuah kampus kebanggaan, yang menjadi idaman ribuan orang.
              KH.Maimun Zubair yang pernah mengatakan bahwasannya “hidup ini tidak usah terlalu kau rencanakan, yang penting niat baik, niat baik, InsyaAllah jadi”. Kalimat itulah yang menjadi motivasi untukku bisa selalu optimis bahwa aku pasti bisa kuliah. Sekalipun kondisi ekonomi keluargaku tidak memungkinkan. Namun Allah sang Maha Kasih, memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka. Aku bisa kuliah di Universitas impianku dengan beasiswa Bidikmisi sehingga aku terbebas dari biaya kuliah dan mendapat biaya hidup tiap semester nya.
             



Bidikmisi, uang rakyat yang menjadi anugerah sekaligus amanah bagi penerimanya. Karena sejatinya merupakan uang rakyat yang ada tanggung jawab disetiap rupiah yang  diterima, ada harapan bangsa atas kita agar bisa mengabdi untuk negeri ketika lulus nanti. Terima kasih Airlangaku, terima kasih Bidikmisi ku. Dua nama yang selalu kusebut dalam doaku, agar Allah selalu merahmati dan mensukseskannya. Aamiin.unair.ac.id

Huznudzan...


Inspirasi Hari Ini.....

"Bro, aku lagi butuh 500 ribu, penting banget, darurat. Please, tolong pinjami aku dulu".

Sahabatnya membalas: "Tunggu barang setengah jam ya bro, insya Allah nanti aku transfer".

Sudah lewat dari 1/2 jam . . satu jam . . tapi sahabatnya tidak juga memberi kabar. Ketika ditelpon pun ternyata HP nya tidak aktif.

Ia pun mengirim SMS : "Selama ini aku tidak pernah mengecewakanmu bro. Tapi kenapa sekarang engkau lari dariku?! Apa salahku?!"

Setelah dibaca, sahabatnya menelpon kembali dan berkata:
"Astaghfirullah, Aku tidak bermaksud mematikan HP untuk lari darimu. Aku mematikan HP karena aku sedang menjual HPku untuk membantu kebutuhanmu. Lalu, dari sisa penjualan, aku belikan HP second yang murah agar bisa menghubungimu".

Sahabat ...
Manusia hari ini suka berprasangka karena lingkungan yang suka mempengaruhi...

Ada sangkaan baik...dan ada sangkaan buruk...

Orang yang bersantai disangka malas
Orang yang pakai baju baru disangka pamer
Orang yang pakai baju buruk disangka tidak hormat
Orang makan banyak disangka rakus
Orang makan sedikit disangka “diet” ketat
Orang baik disangka buruk
Orang buruk disangka baik
Orang tersenyum disangka mengejek
Orang masam disangka menyindir
Orang mengkritik disangka mengumpat
Orang diam disangka menyendiri
Orang menawan disangka pakai susuk
Orang sering ikut kajian/ta'lim dianggap kelompok aliran macam-macam..

Siapa tahu..
Yang diam itu karena berzikir kepada Allah

Siapa tahu...
Yang tersenyum itu karena bersedekah

Siapa tahu...
Yang bermuka masam itu karena mengenangkan dosa-dosanya

Siapa tahu...
Yang menawan itu karena bersih hati dan fikirannya

Siapa tahu...
Yang ceria itu karena cerdas fikirannya & senantiasa mengingat Allah...

Siapa tahu..
Yang sering ikut kajian/ta'lim itu karena merasa masih kurang ilmu...

Huznudzann.. huznudzan..

Sahabat...
Mari....

Hilangkan fikiran negatif....
Kembangkan energi positif...
Biasakan berfikir positif..
Apalagi menghasut supaya membenci orang lain...
Menjelek kan orang lain, karena berpikir terlalu pendek dan tidak tau apa maksud baik orang.

Semoga Bermanfaat..
Tetap tersenyum dan tetap semangat memperbaiki hati.... :)))))

Renungan

Hari ini kembali aku duduk sendiri. Hari ini air mata kembali menjadi saksi tentang harapan besar yang belum bisa ku berikan padamu. Hari ini kembali wudhu menjadi penawar amarah yang membuncah dalam dada karena takut kehilangan mu.

Ayah..
Aku tau raga ini milik Allah seutuh nya, tapi dia sudah meminjamkan nya selama berpuluh tahun padamu.
Dan sampai detik ini aku belum juga bisa membalas budi baik mu. Aku tau tak mungkin ada takdir yang salah untuk kita. Tapi, sakit sekali rasanya kala aku hanya mampu duduk terdiam melihat mu berjuang sendirian :')

Ayah.
Aku tak tau sampai berapa lama raga yang Allah pinjam kan akan kita kembalikan.
Aku tak tau akan terjadi apa sedetik kemudian. Tapi hanya satu keyakinan yang menguatkan ku, bahwa sesungguh nya Allah memberikan cobaan tidak melebihi batas kemampuan hambanya dan ayah yang ku kenal bukan ayah yang pantang menyerah.

MAKALAH TENTANG SAMIN

SEDULUR SIKEP:  WARISAN NILAI-NILAI LUHUR GANDHI VAN JAVA (SUROSENTIKO SAMIN)
 “Diajukan kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah
Universitas Negeri Malang
Untuk Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah 2012”

Oleh :
 0233       Rina Nur Cahyani
0192                              Ita Agustin
0212                              Maya Firdana N.J
Slide1 - Copy.JPG
 










SMA NEGERI MODEL TERPADU BOJONEGORO
NOVEMBER, 2012
                                                                          

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : “SEDULUR SIKEP WARISAN NILAI-NILAI LUHUR GANDHI VAN JAVA (SUROSENTIKO SAMIN)”

NAMA KETUA        : RINA NUR CAHYANI     (0233)
ANGGOTA               : 1. ITA AGUSTIN               (0192)
                                                  2. MAYA FIRDANA N.J  (0212)


Karya tulis ini telah di setujui oleh :


                                                                                                            Bojonegoro, 03 November 2012

Mengetahui,                                                               
Kepala SMAN MT Bojonegoro                                                          Guru pembimbing


Drs. Mashadi, M.Pd                                                                            Aulia Damayanti
NIP . 1963 0929 198512 1 001                                                                                                  

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kehadirat ALLAH  S.W.T atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayahNya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Dengan judul :
SEDULUR SIKEP:  WARISAN NILAI-NILAI LUHUR GANDHI VAN JAVA (SUROSENTIKO SAMIN)
Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengikuti lomba karya tulis yang diadakan ole Himpunan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang pada tahun 2012.
Pembuatan karya tulis ilmiah ini penulis tidak akan dapat menyelesaikannya dengan baik dan benar tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang berupa petunjuk, bimbingan, pengarahan maupun fasilitas yang diperoleh dari berbagai sumber seperti : pengalaman dan nasihat dari para pembimbing.
Pembuatan karya tulis ilmiah ini  didalamnya terdapat berbagai upaya dan langkah penulis untuk menulis karya ilmiah ini dengan baik dan benar, penulis berupaya menyusun kata-kata dan halaman agar menjadi karya tulis ilmiah yang sempurna. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari kesempurnaan, namun penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis juga bagi para pembaca pada umumnya.
Penulis tentu memerlukan kritik, saran dari para pembaca, sehingga dapat digunakan untuk membantu memperbaiki penulisan karya ilmiah yang selanjutnya menjadi baik dan benar. Apabila ada kalimat yang salah dalam pengetikan karya tulis ilmiah ini, mohon dimaafkan dan harap menjadi maklum. Akhir kata, harapan penulis menyusun karya tulis ilmiah ini agar bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
 
              Bojonegoro, 03 November 2012


Peneliti
ABSTRAK

Cahyani, Rina Nur dkk. 2012.Sedulur Sikep: Warisan Nilai-Nilai Luhur Gandhi Van Java (Surosentiko Samin). Bojonegoro: SMAN Model Terpadu Bojonegoro.
kata kunci: Sedulur Sikep, nilai-nilai luhur, Gandhi Van Java (Surosentiko Samin)
            Saat ini banyak budaya-budaya luhur tersebut yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia sedang marak dengan konflik sosial (disintegrasi) yang menjuru kepada perpecahan maupun konflik sosial lainnya. Hal tersebut sangat di sayangkan karena Indonesia adalah Negara yang kaya akan pemikiran yang luhur dari sejarah-sejarah lokal. Salah satu pemikiran yang luhur dari sejarah-sejarah lokal tersebut adalah ajaran Sedulur Sikep yang dianut oleh masyarakat Samin. Titik tekan dalam penelitian ini adalah kajian deskriptif filosofi Sedulur Sikep, reintralisasi nilai-nilai tersebut dan relevansi nilai-nilai luhur Sedulur Sikep saat ini.
            Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Secara khusus penelitian ini menggunakan jenis studi kasus karena berupaya mengeksplorasi dan mendekripsikan suatu objek secara mendalam. Waktu penelitian adalah pada tanggal 1 November 2012.
            Dari penelitian ini diketahui bahwa terdapat banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Sedulur Sikep, diantaranya adalah toleransi, kerukunan, kejujuran, kesederhanaan, menghargai terhadap sesama, serta persatuan dan kesatuan. Salah satu contohnya, nilai kerukunan dapat kita tanamkan kembali ke generasi muda yang mulai melupakan budaya itu. Hal tersebut dapat dilakukan melalui metode interaksi sosial, seperti imitasi, sugessti, identifikasi, simpati, dan empati. Misalnya dengan cara imitasi, orangtua dapat mengaplikasikan budaya Sedulur Sikep kedalam kehidupannya sehari-hari, sehingga sang anak dengan tidak sadar akan meniru perilaku orangtuanya. Dan masih banyak cara-cara yang lain.



DAFTAR ISI

Halaman Judul
Lembar Pengesahan.....................................................................................        i
Kata Pengantar.............................................................................................        ii
Abstrak........................................................................................................         iii
Daftar Isi………………………………………………………………….         iv
BAB I        : PENDAHULUAN
                     1.1 Latar Belakang………………………………………….         1
                     1.2 Rumusan Masalah………………………………………         2
                     1.3 Batasan Penelitian………………………………………         2
                     1.4 Tujuan…………………………………………………...        2
                     1.5 Manfaat………………………………………………….        3
BAB II       : KAJIAN PUSTAKA
                     2.1 Latar Belakang Sejarah Masyarakat Samin………….             4
                     2.2 Ajaran Masyarakat Samin …………………………...             6
                     2.3 Surosentiko Samin sebagai Gandhi Van Java……………       8
                     2.4 Teori Interaksi Sosial…………………………………….       9
BAB III     : METODE PENELITIAN
                     3.1 Rancangan Penelitian……………………………………        11
                     3.2 Data dan Sumber Data…………………………………..       11
                     3.3 Instrumen Penelitian…………………………………….        12
                     3.4 Waktu dan Tempat ………………………………………      12
                     3.5 Teknik Analisis Data…………………………………….        12
BAB IV     : HASIL TEMUAN
                     4.1 Pandangan Awal Tentang Masyarakat Samin…………….     13
                     4.2 Pokok-Pokok Ajaran Surosentiko Samin…………………     14
                     4.3 Pelaksanaan Ajaran Surosentiko Samin di Masa Kolonial
                           Belanda……………………………………………………     15
                     4.4 Cara Mewariskan Nilai-Nilai Ajaran Samin……………….    16
BAB V       : PEMBAHASAN
  5.1 Reinternalisasi Nilai-Nilai Luhur Sedulur Sikep………….     17
  5.2 Relevansi Penanaman Nilai-Nilai Luhur Sedulur Sikep
        Dalam Masyarakat Global Saat Ini…………………………    18
                       
BAB VI     : PENUTUP
                     6.1 Kesimpulan ……………………………………………….     23
                     6.2 Saran……………………………………………………….    23
                        6.2.1 Bagi Pemerintah dan Pihak yang Terkait……………….   23
                        6.2.2 Bgi Pendidikan dan Orang Tua…………………………   23
DAFTAR RUJUKAN ..................................................................................      24
LAMPIRAN




 
 


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Indonesia memiliki khasanah tradisi budaya yang sangat beragam.  Tradisi-tradisi  tersebut  mengandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Salah satu pemikiran yang luhur tersebut adalah ajaran Sedulur Sikep yang dianut oleh masyarakat Samin. Ajaran sedulur sikep memiliki relevansi dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti  kejujuran, gotong royong, solidaritas, kesatuan dan persatuan.
            Namun saat ini, banyak budaya-budaya luhur tersebut yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia sedang marak dengan konflik sosial (disintegrasi) yang menjuru kepada perpecahan maupun konflik sosial lainnya. Sesuai berita di Koran Jawa Pos, tawuran pelajar terjadi di Jakarta pada 24 September 2012 dengan korban satu orang meninggal, dua hari setelah itu, juga di Jakarta tapi di lokasi dan kelompok yang berbeda seorang pelajar meninggal lagi dalam sebuah tawuran. Meninggalnya dua pelajar itu menambah panjang daftar pelajar yang berpulang sia-sia. Berdasar data dari Komisi Nasional Perlindungan anak, disepanjang 2012 sedikitnya ada 16 siswa yang tewas akibat 86 tawuran. Kecuali mati, puluhan luka berat maupun ringan.
            Tawuran pelajar seperti tak pernah berhenti. Padahal, itu sangat merugikan. Selain merugikan sekolah dan pelajar sendiri, kasus itu merugikan publik yang sangat terganggu. Jika tak ada penyelesaian yang mendasar dan menyeluruh atas “tradisi” tawuran ini, bukan tak mungkin para pelajar akan sampai pada kesimpulan bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah. Jika ini benar-benar terjadi, akibat jangka panjangnya bagi negeri ini sudah bisa dibayangkan. Hal tersebut sangat di sayangkan karena Indonesia adalah Negara yang kaya akan pemikiran yang luhur dari sejarah-sejarah lokal. Salah satu pemikiran yang luhur dari sejarah-sejarah lokal tersebut adalah ajaran Sedulur Sikep yang dianut oleh masyarakat Samin. Masyarakat Samin merupakan masyarakat yang melakukan perlawanan terhadap Belanda atas kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Belanda dengan tanpa kekerasan. Senjata mereka adalah bahasa.

            Sikap perjuangan mereka dapat dilihat dari profil orang samin yakni gaya hidup yang tidak bergelimpangan harta, tidak menjadi antek Belanda, bekerja keras, berdoa, berpuasa dan berderma kepada sesama. Ungkapan-ungkapan yang sering diajarkan antara lain : sikap lahir yang berjalan bersama batin diungkapkan yang berbunyi sabar,nrimo,rilo dan trokal (kerja keras), tidak mau merugikan orang lain diungkapkan dalam sikap sepi ing pamrih rame ing gawe dan selalu hati-hati dalam berbicara diungkapkan ‘Ojo waton ngomong, ning ngomong kang maton’.  
            Berdasarkan latar belakang dan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang ajaran Sedulur Sikep dari Surosentiko Samin.

1.2 Rumusan Masalah
1.    Apa sajakah nilai-nilai luhur dari ajaran Gandhi Van Java (Surosentiko Samin)?
2.    Bagaimanakah reinternalisasi dan relevansi Sedulur Sikep sebagai warisan nilai-nilai luhur Gandhi Van Java (Soerosentiko Samin)?

1.3 Batasan penelitian
                                 Agar penelitian tidak menyimpang dari bahasan, maka penelitian ini dibatasi pada masyarakat Samin yang terdapat di lingkup wilayah Bojonegoro.

1.4  Tujuan
1.  Mendeskripsikan apa sajakah nilai-nilai luhur dari ajaran Gandhi Van Java (Surosentiko Samin).
     2.   Mendiskripsikan reinternalisasi dan relevansi Sedulur Sikep sebagai warisan nilai-      nilai luhur Gandhi Van Java (Soerosentiko Samin).

2
.5  Manfaat
1.         Bagi Masyarakat
       Sebagai sarana untuk mengetahui tergalinya potensi nilai-nilai luhur bangsa sebagai media pembelajaran dalam Pendidikan Budaya, Karakter Bangsa yang inovatif,
2.         Bagi Siswa
       Sebagai bahan pembelajaran dan  kategori ilmu sosial atau lebih dikenal dengan sosiologi
3.         Bagi Peneliti
       Dapat mengetahui bagaimana filosofi dari masyarakat Samin dapat digunakan untuk pendidikan moral masyarakat saat ini.














    BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Latar Belakang Sejarah Masyarakat Samin
            Masyarakat Samin ialah satu suku di Jawa Tengah tepatnya ada di Kabupaten Blora. Saminisme ini berasal dari pemikiran seorang tokoh yang bernama Samin Surosentiko yang sebenarnya memiliki nama Raden Kohar seorang putra dari Raden Surowijoyo yang sangat membenci Belanda. Tahun 1840 Raden Surowidjojo bertindak sebagai perampok dan menyerahkan hasilnya pada rakyat miskin dan sisanya digunakan untuk mendirikan komunitas Tiyang Sami Amin. Tahun 1859 lahir Raden Kohar anak dari R Surowidjojo yang sering disebut Samin Surosentiko di desa Ploso Kabupaten Blora. Raden Surowidjoyo merupakan putra Raden Mas Adipati Brotodiningrat yang memiliki dua putra yaitu R Ronggowirjodiningrat dan R.Surowidjojo.
           Kata Samin sendiri berasal dari kata Sami-sami amin. Kata ini dapat diintrepertasikan sebagai sebuah wujud demokrasi yang berlandaskan pada persetujuan bersama sebagai landasan yang sah yang didukung komponen masyarakat banyak. Persetujuan ini ialah persetujuan sekelompok orang yang kemudian sering disebut dengan Suku Samin. Namun, sekarang Suku Samin tidak mau di sebut sebagai suku Samin maupun masyarakat Samin. Alasan masyarakat Samin tidak mau di panggil wong Samin karena identik dengan perbuatan tidak terpuji,antara lain 1) Samin dianggap kelompok yang tidak mau membayar pajak, 2) Sering membantah dan menyangkal peraturan yang telah di tetapkan, 3) sering keluar masuk penjara, 4) sering mencuri kayu jati, 5) perkawinan tidak dilakukan menurut tatacara islam. Mereka lebih suka di sebut sebagai wong sikep karena diartikan sebagai orang yang mempunyai rasa tanggung jawab atau bertanggung jawab. Komunitas ini telah memiliki system bahasa dan kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat Blora pada umumnya sehingga dapat dikatakan bahwa samin merupakan suku yang eksklusif.
             Perlawanan terhadap penjajah kolonial Belanda karena takut akan bergesernya status sosial, hal ini dapat dilihat dari tokoh penggerak dari Saminisme itu sendiri yang merupakan petani yang tergolong cukup mampu. Petani yang cukup mampu ini memiliki tanah lebih dari 3 Bahu sedangkan pada saat itu kepemilikan tanah dibatasi sehingga tanah yang boleh mereka miliki berkurang. Berkurangnya tanah ini menyebabkan kurangnya kedudukan mereka di mata rakyat karena ukuran kedudukan saat itu diukur dari luas tanah. Hal ini terkait dengan pengakuan kedudukan seseorang di mata penduduk desa yaitu pemilik sawah atau tanah yang luas ialah orang yang sangat tinggi statusnya sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tanah merupakan ukuran tinggi rendah status dari masyarakat pedesaan.
           Selain dari faktor di atas, faktor kebencian akan penjajah dan perlakuan sewenang-wenang dari bumi putera yang menjadi perangkat pemerintah kepada masyarakat menjadi faktor pendorong dari perlawanan masyarakat Samin. Pada dasarnya Suku Samin merupakan suku yang menginginkan persamaan derajat antara satu manusia dengan manusia lain. Dalam hal ini maka gerakan ini menginginkan persamaan derajat antara penduduk pribumi yaitu petani dan bangsa Belanda beserta kaki tangannya yaitu Bumi Putera atau pribumi yang menjadi pegawai Belanda.
           Secara rohani setiap suku di Indonesia yang mengharapkan datangnya Ratu Adil juga mengilhami gerakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Hal ini dapat dilihat dari diangkatnya Samin Surosentiko sebagai ratu adil dengan gelar Prabu Panembahan Surya Alam Pada tahun 1907. Dengan diangkatnya Samin Surosentiko sebagai Ratu Adil maka rakyat menganggap bahwa Samin Surosentiko sebagai panutan yang dapat membawa keadilan dan kesejahteraan. Akan tetapi menurut Samin Surosentiko sendiri, Ia tidak mengakui hal itu karena ketika di pengadilan, Samin beserta 8 pengikutnya tidak mengakui hal tersebut sehingga Belanda tidak dapat memberikan hukuman yang berat kepada Samin Surosentiko, hanya dengan membuangnya keluar Jawa untuk meredam gerakan Samin.
          Samin sendiri dibagi menjadi dua berdasarkan karakter perilakunya, yaitu:
(1). Samin Sikep
            Suku Samin ini memiliki ciri dengan tutur bahasa yang halus dan masih memakai bahasa yang santun kepada orang-orang tua. Salah satu ciri yang lain ialah perlawanan dengan cara perilaku dengan model niteni (memperhatikan miliknya sendiri). Cara ini konkritnya ialah ketika ditarik pajak akan hasil buminya maka ia akan menggunakan pola fikir bahwa tanah yang digarap ialah tanahnya sendiri bukan tanah dari bangsa Belanda mengapa harus membayar pajak untuk miliknya sendiri. Dapat disimpulkan bahwa Samin sikep dengan cara ini menolak pajak sebagai bentuk perlawananya.
(2). Samin Sangkah
            Suku Samin memiliki karakter yang berbeda dengan Samin Sikep. Samin Sangkah ditandai dengan tutur bahasa yang kasar kepada bangsa Belanda dan pribumi pegawai Belanda. Pola dari bahasa kasar ini dengan memakai bahasa Jawa Ngoko kepada Belanda berserta kaki tanganya. Pemakaian bahasa ini menunjukan nilai-nilai persamaan derajat yang diusung oleh suku Samin kepada Belanda. Selain itu yang menjadi ciri dari Samin Sangkah ini ialah perilaku dengan model logika berdasarkan perspektif mereka sendiri. Pola ini secara konkrit ialah ketika ditanya berapa jumlah sapi yang dimilikinya maka ia akan menjawab dua walaupun sebenarnya memiliki sapi lebih dari dua. Hal ini sesuai asumsi mereka bahwa sapi mereka hanya dua yaitu jantan dan betina. Perilaku ini dilakukan guna menghindari pajak dari Belanda serta membingungkan Belanda dalam mencari informasi akan gerakanya.

2.2 Ajaran masyarakat Samin
            Ajaran Ki Samin mengenai kejatmikaan atau ilmu untuk jiwa dan raga, jasmani dan rohani mengandung 5 saran, yaitu:
1.      Jatmiko kehendak yang didasari usaha pengendalian diri.
2.      Jatmiko dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati sesama makhluk Tuhan.
3.      Jatmiko dalam mawas diri, melihat batin sendiri setiap saat, dapat menyelaraskan dengan lingkungan.
4.      Jatmiko dalam menghadapi bencana/bahaya yang merupakan cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa.
5.      Jatmiko untuk pegangan budi sejati.
             Menurut Ki Samin ajaran kejatkikaan tersebut merupakan senjata yang paling baik dan memiliki khasiat yang ampuh, karena dalam kehidupan itu banyak godaan dari segala arah dan yang tidak aneh adalah yang berasal dari “Rogo Rapuh” sendiri.
            Ki Samin mengerjakan anak buahnya harus pasrah, semeleh, sabar, narimo ing pandum seperti air telaga yang tidak bersuara. Dalam perkumpulan, dalam memberi putunjuk Ki samin selalu menggunakan tulisan huruf Jawa yang disusun seperti halnya puisi, prosa, gancaran, dan tembang mocopat. Seperti di bawah ini yang berbentuk prosa:
“Jer ruh tumuruning tumus winwntu ing projo nalar, nalar wikan reh kasudarman, hayu ruwuyen badra, nukti-nuting lagon wirana natyeng kewuh, saka angganingrat”.
Sifat-sifat yang diajarkan selalu menggunakan pertimbangan logika (akal sehat) antara kewaspadaan dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup seperti menyusun gending. Perbuatan yang dapat mengatasi hambatan hidup adalah apa saja yang kita bawa dalam menjalani hidup di dunia.
            Salah satu pegangan/pedoman Ki Samin dirancang dalam tembang pangkur.
“ Soho malih dadya gaman, anggegulang gelunganing pambudi, polokrami nguwah mangun memangun treping widyo, kasampar kasandung dugi prayogantuk, ambudya atmaja tama, mugi-mugi dadya kanti”.
Yang artinya: juga menjadi senjata untuk melatik letajaman budi, bisa melalui perkawinan yang menghasilkan kesanggupan yaitu kegunaan dengan ilmu yang luhur/baik, karena dalam perkawinan itu kita jatuh bangun dalam berupaya mencari “cukup” terlebih lagi dalam mengusahakan lahirnya anak cucu yang nantinya menjadi teman hidup.
            Ki Samin memang tidak hanya mengerjakan ilmu kadigdayan tapi juga mengurusi masalah perkawinan atau hubungan antara pria dan wanita.
Tentang pedoman tingkah laku kehidupan tertulis dalam tembang dandang gulo.
“Pramila sesama kang dumadi, mikani ren papanng sujana, sajogo tulus pikukuhe, angrengga jagat agung, lelantaran mangun sukapti, limpade kang sukarso, wisaha anggayun, suko bukamring prajaning wang, pananduring mukti kapti amiranti dilalah kandiling setya”.
Yang artinya
: adalah kepada sesama makhluk hidup, dengan cara memahami kehidupan masing-masing, sebaiknya tulus. Cara yang dilakukan adalah memelihara dunia yang besar dengan membuktikan kepercayaan, mengutamakan kelincahan dan kemampuan, sering dibuktikan, tidak lain yaitu menanam kebaikan.
            Masih banyak ajaran Ki Samin yang lain yaitu seperti buku primbon yang memuat petunjuk untuk orang hidup tentang kepercayaan terhadap Tuhan yang menciptakan dunia, tingkah laku dan sifat-sifat orang hidup, misalnya buku “Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kesejaten, Serat Uri-uri Pambudi dan Jati Sawit.
            Ki Samin dalam mengajar untuk membangun manusia seutuhnya seperti di atas tersebut, membuktikan bahwa dia memiliki pengetahuan kebudayaan dan lingkungan. Andalan Ki Samin adalah Kitab Jamus Kalimosodo yang di tulis oleh Kyai Surowidjojo atau Samin Sepuh. Terlebih lagi pribadi Ki Samin Sepuh juga terdapat dalam Kitab tersebut.
            Kitab Jamus Kalimosodo ditulis dengan bahasa Jawa baru yang berbentuk prosa, puisi, ganjaran, serat mocopat seperti tembang-tembang yang telah ditulis di atas yang isinya bermacam-macam ilmu yang berguna yang saat sekarang ini banyak disimpan sesepuh Masyarakat Samin yang berada di Tapelan (Bojonegoro), Kropoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunung Segara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan) yang berbentuk lembaran tulisan huruf Jawa yang dipelihara dengan baik.
            Daerah Kekuasaan Ki Samin Surosentiko sudah semakin luas hingga desa-desa lain. Pada suatu hari masyarakat Desa Tapelan, Ploso dan juga Tanjungsari mengangkat Ki Samin menjadi Raja dengan gelar “Prabu Panembahan Suryongalam” yang dapat menerangi orang sedunia dan yang diangkat sebagai patih merangkap senopati, kamituwo (Kepala Dusun) Bapangan yang diberi gelar “Suryo Ngalogo” yang mengajarkan tentang perang. Ini membuktikan bahwa orang Jawa/pribumi dengan sah memiliki tekad yang utuh berjuang secara tenang (halus).
            Ki Samin Surosentiko dalam menentang penjajah dapat dilihat dalam bermacam-macam cara. Bila kita melihat bagaimana perbuatan orang-orang
pemerintahan Belanda yang hendak menghabiskan warga Samin yang waktu
itu tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati dan Kudus yang paling banyak di Desa Tapelan Kecamatan Ngraho Bojonegoro. Namun Ki Samin Surosentiko tidak khawatir berjuang namun kelihatan diam sepertinya dia melawan tanpa perang. Cara yang dipakai melawan hanyalah menolak membayar pajak, menolak menyumbang tenaga untuk pemerintahan Belanda, membantah terhadap peraturan dan dia mendewakan dirinya sendiri seperti halnya titisan dewa yang suci.

2.3 Soerosentiko Samin sebagai Gandhi Van Java
            Selama abad ke-19 dan awal abad ke 20 di Indonesia terus-menerus timbul, pemberontakan, kerusuhan, kegaduhan, brandalan, dan sebagainya, yang semuanya itu cukup menggoncangkan masyarakat dan pemerintah pada waktu itu.  Peristiwa-peristiwa tersebut terutama sekali banyak terjadi di daerah pedesaan. Dapat dikatakan hampir setiap tahun di salah satu daerah terjadi pergolakan dan kerusuhan, yang sering di wujudkan sebagai tindakan-tindakan-tindakan yang bersifat agresif dan radikal.  Oleh karena itu pergerakan sosial menjadi gerakan yang bersifat endemis.
Tanah kering di Blora yang kaya hutan jati itu ternyata memiliki sosok Mahatma Gandhi yang telah membentuk masyarakat komunalnya seperti Utopia-nya Thomas Robert More. Sejarah Indonesia telah mencatat perlawanan Samin Surantiko, walau hanya sedikit.
Sebenarnya orang-orang Samin setelah kematian sang pemimpinnya yang bernama Samin Surontiko, tidak suka dijuluki Samin. Kata Samin memiliki konotasi bodoh, tapi bukan kebodohan karena tidak atau kurang cerdas, tetapi bodoh yang keras kepala dalam mengukuhkan pendirian mereka.  Orang-orang Samin lebih suka dijuluki Wong Sikep (orang yang bertanggungjawab dalam konotasi baik dan jujur).
Samin yang awalnya nama seorang pernah melawan kekuasaan dengan cara yang unik itu, kini menjadi kata juga cemoohan. Kata samin yang menjadi bahan ejekan bisa jadi bersifat politis. Hal ini diciptkan oleh penguasa yang telah menghancurkan perlawanan tanpa kekerasan ditambah sebuah ejekan. Samin yang semula adalah berusaha memanusiakan manusia, telah dijadikan ejekan yang tidak manusiawi
Samin yang kadang diartikan bodoh ini telah menutupi keharuman nama samin dalam sejarah perlawanan sosial di Indonesia. Samin adalah sosok gerakan sosial yang nyaris dilupakan dalam sejarah. Samin bisa disejajarkan dengan Pitung Robinhood Betawi yang juga dikecilkan dan nyaris tidak disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Samin telah meninggalkan masyarakat Samin yang telah dibentuknya lebih dari seabad lalu. Masyarakat Samin adalah masyarakat eksklusif yang hidup komunial dibeberapa kabupaten diutara perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Mereka memulai perlawannya dari sebuah protes atas program perluasan hujan jati oleh pemrintah kolonial dan pendukung pribuminya. Lama-kelamaan gerakan ini berkembang menjadi gerakan kebatinan yang menentang segala bentuk formalitas. Seperti administrasi negara dan lembaga sekolah. Hal menarik dari Samin adalah mereka menolak membayar pajak. Karena itulah Soerosentiko Samin kami sebut sebagai Gandhi Van Java.

2.4 Teori Interaksi Sosial
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan, atau saling mempengaruhi. Dengan demikian, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok.

Faktor-faktor pendorong interaksi sosial:                                                                                     
1.      Imitasi
            Imitasi adalah suatu tindakan meniru orang lain. Imitasi atau perbuatan meniru bisa dilakukan dengan bermacam-macam bentuk. Misalnya, gaya bicara, tingkah laku, adat, dan kebiasaan, pola pikir, serta apa saja yang dimiliki atau dilakukan oleh seseorang. Namun demikian, dorongan seseorang untuk meniru orang lain tidaklah berjalan dengan sendirinya. Perlu ada sikap menerima, sikap mengagumi, dan sikap menjunjung tinggi apa yang akan diimitasi itu.
2.      Sugesti
            Sugesti berlangsung apabila seseorang memberi pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu diterima oleh orang lain. Biasanya, sugesti muncul ketika si penerima sedang dalam kondisi yang tidak netral sehingga tidak dapat berpikir secara rasional. Segala anjuran atau nasehat yang diberikan langsung diterima dan diyakini.
3.      Identifikasi
            Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan seorang untuk menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan). Identifikasi sifatnya lebih mendalam dibandingkan imitasi, karena proses identifikasi, kepribadian seseorang bisa terbentuk. Orang melakukan proses identifikasi karena sering kali memerlukan tipe ideal tertentu dalam hidupnya.
4.      Simpati
            Simpati merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain. Melalui proses simpati, seseorang merasa dirinya seolah-olah berada dalam keadaan orang lain dan merasakan apa yang dialami, dipikirkan, atau dirasakan orang lain tersebut. Dalam proses ini, perasaan memegang peran penting walaupun alasan utamanya adalah rasa ingin memahami dan bekerja sama dengan orang lain.
5.      Empati
Empati merupakan simpati mendalam yang dapat mempengaruhi kejiwaan dan fisik seseorang. Empati sering disamakan dengan simpati, namun sebenarnya keduanya berbeda. Empati sifatnya lebih dalam daripada simpati.
BAB III
METODE PENELITIAN

1.1  Rancangan Penelitian
            Metode penelitian yang kami gunakan adalah  metode penelitian deskriptif kualitatif.  Penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial, dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah (Husein Umar, 1999:81). Sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan pada studi kasus yang merupakan penelitian yang rinci mengenai suatu obyek tertentu selama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh. Studi kasus ialah suatu pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari obyek, artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, di mana tujuannya adalah untuk memperkembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai obyek yang bersangkutan yang berarti bahwa studi kasus harus disifatkan sebagai penelitian yang eksploratif dan deskriptif.

3.2  Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 
1.         Data Primer merupakan hasil catatan hasil observasi langsung, yaitu pengamatan dengan mencari lokasi yang di huni oleh wong sikep yang masih memegang teguh dasar-dasar sedulur sikep sehingga peneliti melakukan pengamatan langsung pada tingkah laku mereka.
2.        Data sekunder berasal penelitian dan penelitian yang telah dilakukan





3.3 Instrumen Penelitian
            Instrumen utama penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen kunci yang mengumpulkan data dan menganalisis data. Sedangkan instrumen sekunder antara lain dengan menggunakan pedoman observasi/pengamatan, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi.

3.4   Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 November 2012 di Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Alasan pemilihan lokasi ini karena faham Saminisme berkembang dengan baik ,terdapat sesepuh Saminisme, dan kebudayaan sikep di desa ini masih sangat kental.

3.5  Teknik Analisis Data
            Analisis data yang dilakukan adalah dengan cara menggunakan pola penafsiran induktif, yakni setelah observasi, peneliti melakukan analisis dan penyimpulan yang didasarkan pada kajian teori yang digunakan.

 

 


BAB IV
HASIL TEMUAN

4.1 Pandangan awal tentang masyarakat Samin
            Masyarakat setempat memandang sebelah mata tentang masyarakat Samin. Mereka menganggap, masyarakat Samin adalah masyarakat yang aneh, gila, bodoh, terbelakang dan terisolir. Masyarakat Bojonegoro sering menggunakan istilah “nyamin” saat ada sesuatu hal yang dianggap kurang baik, misalnya ada orang yang tidak jelas bahasanya ,bodoh dll. Hal tersebut seakan-akan sudah menjadi kebiasaan di masyarakat setempat.
            Kata nyamin ini diambil dari kata Samin, mereka menggunakan kata nyamin karena menurut mereka masyarakat Samin adalah masyarakat yang nyeleneh, dan beda dari masyarakat secara umumnya. Mereka menganggap setiap hal-hal yang buruk itu sama dengan masyarakat Samin. Masyarakat setempat menganggap perilaku-perilaku yang dilakukan masyarakat Samin saat melawan penjajahan Belanda adalah cara yang aneh dan tidak biasa. Karena seperti yang kita ketahui, masyarakat Samin melawan penjajahan Belanda dengan tanpa mengangkat senjata. Melainkan senjata yang mereka gunakan adalah bahasa (bahasa ngoko) dan perilaku-perilaku yang aneh.
            Masyarakat Samin dianggap gila, karena omongan mereka yang tidak pernah nyambung, misalnya saat ditanya “Kang mau kemana?”, maka jawaban mereka “mau kedepan”.
Masyarakat Bojonegoro menganggap masyarakat Samin bodoh, karena menurut mereka, masyarakat Samin tidak pernah mematuhi aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintahan Belanda. Misalnya saat disuruh memindahkan gundukan batu, maka mereka hanya akan memindahkannya satu.
            Perilaku-perilaku yang dilakukan masyarakat Samin ini karena ada alasan tersendiri, yaitu mereka tidak mau terjadi kerusuhan, pertengkaran, dan pertumpahan darah. Sehingga mereka lebih memilih untuk tidak mengangkat senjata dan memilih melawan Belanda dengan omongan dan perilaku yang unik. Masyarakat samin juga kental dengan toleransi, mereka menganggap setiap agama adalah sama, sehingga mereka mempercayai agama Adam. Masyarakat Samin juga sangat suka pada kerukunan, solidarits, dan persatuan. Contohnya mereka selalu gotong royong dengan sesama tetangga, misalnya saat ada tetangga yang kesulitan, maka semuanya membantu.
            Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, bahwa sebenarnya masyarakat samin adalah masyarakat yang mempunyai budaya-budaya yang luhur. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan anggapan-anggapan masyarakat sekarang terhadap Masyarakat Samin. Oleh karena itu ada baiknya mulai saat ini, kita tidak menggunakan istilah nyamin untuk menyebut hal-hal yang buruk.
                                                                 
4.2 Pokok-pokok ajaran Surosentiko Samin
Dalam  setiap  menyampaikan  pokok-pokok ajaran kepada pengikutnya, Surosentiko Samin menggunakan metode ceramah  (sesorah)  di  rumah  atau  di tanah lapang. Hal ini dilakukan karena orang Samin tidak tau menulis dan membaca pokok-pokok ajaran dari Surosentiko Samin yang kemudian diikuti oleh  penerusnya  yaitu  Wongsorejo  (Jiwan,  Madiun,  tahun  1908), Surohidin  (menantu)  dan  Engkrek  (Grobogan,  1911),  Karsiyah  (Pangeran Sendang Janur, di Kayen, Pati, 1911). Pokok-pokok ajaran Surosentiko Samin adalah sebagai berikut:
a.  Agama  kui  gaman,  adam  pangucape,  man  gaman  lanang  (Agama adalah  senjata  atau  pegangan  hidup).  Paham  Samin  tidak  membeda-bedakan  agama,  oleh  karena  itu  orang  Samin  tidak  pernah mengingkari  atau  membenci  agama,  yang  terpenting  adalah  tabiat dalam hidupnya.
b.  Aja  drengki  srei,  tukar  padu,  dahpe.  Kemeren,  Aja  kuntil  jumphut, bedhog  nyolong  (Jangan  mengganggu  orang,  jangan  bertengkar, jangan  suka  iri  hati  dan  jangan  suka mengambil milik orang lain)
c.  Sabar  lan  trokel  ampun  ngantos  drengki  srei,  umpun  ngantos  riyo sapada,  empun  nganti  pek-pinepek,  kutil  jumput  bedhog  nyolong. Nopo  maleh  bedhog  colong  napa  milik  barang,  nemu  barang  teng dalam mawon kulo simpangi.  (Berbuatlah sabar dan jangan sombong, jangan menganggu orang lain dan janga takabbur, jangan mengambil milik  orang  lain  apalagi  mencuri,  mengambil  barang.  Sedangkan menjumpai barang tercecer di jalan di jauhi).
d.  Wong  urip  kudu  ngerti  uripe,  sebab  urip  siji  digowo  selawase (Manusia  hidup  harus  memahami  kehidupannya,  sebab  hidup  adalah sama dengan ruh dan hanya satu yang dibawa abadi selamanya) 
e.  Wong  enom  mati  uripe  titip  seng  urip.  Bayi  uda  nangis  nger  niku sukma ketemu raga. Dadi mulane wong niku mboten mati, nek ninggal sandhangan  niku  nggih.  Kedah  sabar  lan  trokol  seng  diarah  turune. Dadi ora mati nanging kumpul seng urip. Apik wong selawase sepisan dadi  wong  selawase  dadi  wong.  (Kalau  anak  muda  meninggal  dunia, rohnya  dititipkan  ke  roh  yang  hidup.  Bayi  menangis  itu  tanda bertemunya  roh  dengan  raga.  Karena  itu  roh  orang  yang  meninggal tidaklah  meninggal,  hanya  meninggalkan  pakaiannya.  Manusia hidup harus sabar dan tawakkal untuk keturunannya. Jadi roh itu tidak mati melainkan berkumpul dengan roh yang masih hidup. Sekali orang itu berbuat baik, selamanya akan menjadi orang baik)
f.  Pangucap  saka  lima  bundhelane  ana  pitu,  lan  pangucap  saka  sanga bundhelane  ana  pitu,  (ibaratnya  orang  berbicara  dari  angka  lima berhenti  pada  angka  tujuh,  dan  angka  Sembilan  juga  berhenti  pada angka  tujuh).  Artinya  merupakan  isyarat  atau  simbol  bahwa  manusia berbicara harus menjaga mulut. 

4.3 Pelaksanaan Ajaran Surosentiko Samin di Masa Kolonial Belanda
            Pada saat penjajahan kolonial Belanda, banyak terdapat gerakan-gerakan perlawanan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Gerakan-gerakan tersebut seperti, gerakan Ratu Adil, gerakan Sekte Keagamaan, Gerakan Samin dll. Kebanyakan pergerakan-pergerakan tersebut melawan penjajahan Belanda dengan mengangkat Senjata. Namun berbeda dengan gerakan Samin, mereka melawan penjajahan Belanda dengan tanpa kekerasan. Tapi, mereka mengunakan bahasa sebagai senjata mereka. Perang ini tidak menggunakan senjata dengan alasan mereka tidak mau membunuh orang, harus sabar. Perang ini bisa di sebut perang Sirep (Bahasa Jawa).



 4.4 Cara mewariskan nilai – nilai ajaran Samin
            Nilai-nilai ajaran Samin diwariskan kepada keturunan dengan pitutur (Nasehat-nasehat). Pewaris Ajaran-ajaran tersebut adalah siapa saja yang mau dan mampu menerapkan,  melestarikan ajarannya serta menanamkan ajaran tersebut di dalam diri masyarakat.



















BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Reinternalisasi Nilai-nilai Luhur Sedulur Sikep
            Sesuai dengan nilai-nilai luhur Sedulur Sikep yang dimliki masyarakat Samin yang diuraikan di atas. Dapat kita ketahui, ternyata banyak nilai-nilai luhur  yang sebenarnya perlu kita tanamkan kembali dalam budaya masyarakat Indonesia, untuk menumbuhkan kembali budaya-budaya Indonesia yang sudah mengalami pergeseran sebagai akibat dari globalisasi.
            Budaya-budaya Sedulur Sikep yang dapat kita tanamkan kembali adalah seperti, sabar, rukun, kejujuran, gotong royong, solidaritas, kesatuan dan persatuan, menghargai sesama sederajat, dan kesederhanaan.
            Budaya-budaya tersebut dapat kita tanamkan dengan interaksi sosial. Cara-cara yang dapat kita gunakan untuk menanamkan nilai Sedulur Sikep ini, adalah melalui metode interaksi sosial, yaitu imitasi, suggesti, identifikasi, simpati, dan empati.
1.      Imitasi
            Reinternalisasi ,melalui imitasi dapat dilakukan oleh orang tua, pendidik, dan pemerintah. Untuk orang tua dapat berperilaku dan bersikap sesuai dengan ajaran Sedulur Sikep, seperti berperilaku jujur, rukun dengan tetangga, dan toleransi. Sehingga secara otomatis, anak meniru perilaku orang tua. Untuk pendidik dapat berperilaku sesuai dengan ajaran Sedulur Sikep. Sehingga secara otomatis, anak meniru perilakunya. Untuk  pemerintah hendaknya tidak menggunakan identitas atau hal-hal lain yang mencerminkan ciri suatu golongan. Tidak menggunakan kaos partai dan lain-lain. karena setelah menjadi pemimpin seluruh warga adalah anak (asuhan) nya. Sehingga masyarakat dapat meniru untuk menganggap semuanya sederajat.
2.      Suggesti
            Reinternalisasi ,melalui sugesti dapat dilakukan oleh orang tua dengan menasehati anaknya, sesuai dengan ajaran-ajaran Sedulur Sikep. Untuk pemerintah dan pihak terkait dapat membuat poster-poster maupun iklan yang mempunyai makna ajaran Sedulur Sikep.
3.      Identifikasi
            Reinternalisasi dengan identifikasi dapat dilakukan melalui individu-individu tertentu yang dianggap istimewa/digemari oleh orang atau sekelompok orang, seperti artis, atlet, pengusaha,dll. Mereka tersebut hendaknya mempunyai sikap sesuai dengan ajaran Sedulur Sikep. Dengan demikian diharapkan penggemar bisa meniru secara keseluruhan penampilan secara khususnya dan sikap secara umumnya.
4.      Simpati
            Reinternalisasi dengan simpati dapat dilakukan individu yang mempunyai peran penting dalam diri seseorang dengan cara menceritakan atau memberitahukan hal-hal yang menarik dari Sedulur Sikep. Sehingga seseorang bisa tertarik terhadap hal tersebut.
5.      Empati
            Reinternalisasi dengan dengan empati dapat dilakukan oleh pendidik. Pendidik dapat membuat program dimana mengajak siswanya untuk mngunjungi maupun tinggal sementara di tempat pemukiman wong sikep sehingga mereka dapat mengetahui pola perilaku dan kehidupan mereka. Dan diharapkan mereka dapat meniru hal-hal tersebut.

 
 


5.2 Relevansi Penanaman Nilai-nilai luhur sedulur sikep dalam masyarakat Global saat ini
Saat ini dalam masyarakat Global, terdapat banyak permasalahan-permasalahan yang rumit. Beberapa contohnya adalah :
1.      Persaingan (competition)
18
 
            Persaingan adalah perjuangan berbagai pihak untuk mencapai tujuan tertentu. Persaingan mempunyai dua tipe, yaitu yang bersifat pribadi dan bersifat non pribadi. Tipe yang bersifat pribadi mempunyai arti individu akan bersaing secara langsung, misalnya persaingan anggota untuk memperoleh kedudukan-kedudukan tertentu dalam sebuah organisasi. Contoh: saat ini di Indonesia sedang maraknya persaingan partai untuk mendapat kedudukan tertinggi atau jabatan tertentu di Indonesia.
2.      Kontravensi (contravention)      
            Kontravensi pada hakekatnya adalah suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Ditandai dengan adanya ketidakpuasan dan ketidakpastian mengenai diri seseorang, rencana, perasaan tidak suka yang disembunyikan, atau kebencian dan keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Contoh: perang dingin antara anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
3.      Pertentangan atau konflik (conflict)
            Pertentangan atau konflik adalah suatu perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Biasanya, konflik disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi karena ada perbedaan pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu maupun kelompok, dan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang cepat yang menimbulkan disorganisasi sosial. Contoh: pertentangan yang terjadi antarpartai politik menjelang pemilu, atau pertentangan antar Negara.
4.      Desintegrasi Ilmu Pengetahuan
Kehidupan modern ditandai oleh adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma (cara pandang) nya sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Jika seseorang menghadapi masalah lalu ia pergi kepada kaum teolog, ilmuan, politisi, sosiolog, ahli biologi, psikolog dan lain-lain. maka jawaban yang ia dapatkan akan berbeda satu sama lain. Bahkan terkadang jawaban tersebut sering bertolak belakang. Inilah yang akan membuat manusia kebingungan.

5.      Kepribadian Yang Terpecah
19
 
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak. Ini akan menyebabkan manusia menjadi pribadi yang terpecah (split personality). Kehidupan manusia modern diatur menurut rumus ilmu ynag eksak dan kering. Akibatnya, kini tengah menggelinding proses hilangnya kekayaan rohaniah.
Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah kendali agama. Maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan. Dengan berlangsungnya proses tersebut, semua kekuatan yang lebih tinggi untuk meningatkan derajat kehidupan manusia akan musnah. Sehingga, tidak hanya kehidupan kita yang mengalami kemerosotan, tetapi juga kecerdasan dan moral kita.
6.      Penyalahgunaan IPTEK
Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual, maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan suatu bangsa atau bangsa lain, subversi dan lain-lain. Kemampuan dibidang rekayasa genetika diarahkan untuk tujuan jual-beli manusia. Kecanggihan dibidang teknologi komuniasi dan lain-lain telah menghancurkan umat manusia.
7.      Pendangkalan Iman
Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan yang disebut diatas, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya. Ia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu. Bahkan informasi yang dibawa oleh wahyu itu menjadi bahan tertawaan dan diannggap tidak ilmiah dan kampungan.
8.      Pola Hubungan Materialistik
Semangat persaudaraan dan rasa saling tolong-menolong yang didasarkan atas panggilan iman sudah tidak tampak lagi. Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material.
Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara materialis. Akibatnya ia menempatkan perimbangan material diatas pertimbangan akal sehat, hati nurani, kemanusiaan dan imannya.
9.      Penghalalan Segala Cara
Sebagai imbas atas pola hidup yang matelialis dan dangkalnya iman seseorang, maka seseorang akan mengedepankan segala yang sekiranya mampu memenuhi kebutuhannya. Termasuk dalam hal ini adalah dengan menghalalkan segala cara tanpa memikirkan dampak spiritual bagi dirinya sendiri.


 


10.  Stress dan Frustasi
Kehidupan modern yang demikian kompleks menggiring manusia untuk mengarahkan seluruh fikiran, tenaga, kemampuan. mereka terus bekerja dan memenuhi hasrat tanpa mengenal batas dan waktu. Dampaknya, mereka begitu mendewakan sesuatu yang bersifat duniawi. Dan ketika segala yang mereka gagal, mereka cenderung tertekan dalam dinaamika zaman.
Hal buruk lainnya, karena dari awal mereka tidak mempunyai pegangan yang jelas maka ketika hancurpun mereka tetap tidak memiliki pegangan yang bisa di jadikan dasar. Sehingga nantinya mereka akan frustasi akan segala hal buruk yang menimpa mereka.
11.  Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya
Terdapat sejumlah orang yang terjerumus dan salah memilih jalan. Masa mudanya dihabiskan untuk menuruti hawa nafsu dan segala daya dan cara telah ditempuhnya. Ada suatu saat dimana ia sudah tua renta. Secara fisik sudah tak lagi berdaya. Tenaga sudah tidak mendukung lagi untuk beraktifitas. Manusia yang demikian ini akan merasa kehilangan harga diri dan masa depannya. Kemana ia harus berjalan? ia tidak tahu. Mereka perlu bantuan dari kekuatan yang berada di luar dirinya. Dan hal Itu adalah bantuan dari Tuhan.
12.   Kriminalitas anak remaja
Pelaku kriminal dari kalangan remaja dan anak-anak meningkat pesat. Berdasarkan data yang ada, terhitung sejak Januari hingga Oktober 2009, meningkat 35% dibandingkan tahun sebelumnya, Pelakunya rata-rata berusia 13 hingga 17 tahun. Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologi, dengan terlihat banyaknya yang terjadi pada mereka yang memiliki masalah dalam keluarga atau pergaulan yang tidak bisa mereka atasi, kemudian mereka melakukan pelarian yang salah. Entah itu sebagai bentuk protes atau cara mereka untuk mencari perhatian. Dan mereka juga memiliki emosi yang tidak bisa mereka kendalikan dalam menghadapi masalah tersebut. Tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Mereka ingin melakukan segala hal sesuai dengan apa yang di benak mereka.
            Uraian diatas menunjukkan ketidaksesuaian budaya saat ini dengan nilai-nilai luhur bangsa, nilai-nilai luhur bangsa mulai luntur tergerus modernisasi di segala bidang yang menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan sosial. Menurut Hardjo Kardi, penerus ajaran Samin di desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo, kabupaten Bojonegoro, Sedulur Sikep dapat di terapkan untuk menghadapi masalah-masalah sosial saat ini. Karena ajaran Sedulur Sikep mengajarkan kesabaran, kerukunan, Kesederhanaan, toleransi, menghargai sesamanya sederajat, dan keadilan. Ajaran-ajaran tersebut mencerminkan Pancasila sebagai pandangan hidup kita. Oleh karena itu hendaknya perhatian kepada nilai-nilai sedulur Sikep sebagai perwujudan karakter bangsa lebih di tekankan. Karena nilai-nilai Sedulur Sikep dapat menjadi alternative untuk menjawab permsalahan sosial saat ini.











BAB VI
PENUTUP

6.1 KESIMPULAN
            Nilai-nilai luhur dari ajaran Surosentiko Samin antara lain adalah sabar, rukun, kejujuran, gotong royong, solidaritas, kesatuan dan persatuan, menghargai sesama sederajat, dan kesederhanaan. Nilai-nilai tersebut perlu dilestarikan karena nilai-nilai tersebut adalah ciri khas masyarakat Indonesia.
            Budaya-budaya tersebut dapat kita lestarikan dengan cara menanamkan budaya tersebut dimulai dari diri kita sendiri, kemudian ke keluarga, tetangga-tetangga, baru kemudian ke masyarakat luas. Karena jika dalam setiap diri masyarakat indonesia tertanam setiap kebudayaan yang baik seperti kebudayaan Sedulur Sikep, maka masyarakat Indonesia akan damai. Selain itu dengan di lestarikankannya nilai-nilai sedulur sikep yang mempunyai keidentikan dengan dasar Negara kita yaitu “Pancasila” diharapkan dapat membendung arus budaya modern yang kurang memiliki karakter kebangsaan.

6.2 SARAN
 6.2.1  Bagi Pemerintah dan Pihak yang Terkait
            Hendaknya lebih mengembangkan nilai-nilai luhur budaya lokal karena mengandung nilai-nilai moral yang dapat membenahi karakter bangsa yang mulai jauh dari cermin budaya lokal Indonesia, dengan cara membentuk bibit tunas bangsa yang berkarakter melalui pelestarian nilai-nilai luhur budaya lokal. Masyarakat Indonesia patutlah menjadi masyarakat dinamis yang tetap melestarikan budaya lokal agar terbentuk bangsa yang berkarakter.
6.2.2        Bagi Orang Tua
            Hendaknya para orang tua menanamkan nilai-nilai budaya lokal dalam diri mereka, selain itu orang tua di harapkan juga menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian anak bisa meniru yang akhirnya juga akan membangun karakter individu
DAFTAR RUJUKAN

Budaya Samin. (file:///D:/Budaya Samin dalam Layar Putih.htm).Diakses tanggal 30 Oktober 2012.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1984. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Notosusanto, Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho
Kurnia, Ahmad. 2007. Menejemen Penelitian. (http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2007/11/penelitian-kualitatif-metode-kualitatif.html).Diakses tanggal 29 Oktober 2012.
---------. 2012.  Pengertian Interaksi Sosial. (http://karodalnet.blogspot.com/2011/10/pengertian-Interansi-sosial.html).Diakses tanggal 29 September 2012.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1997. Pembinaan Nilai-nilai Budaya Melalui Permainan Rakyat di Daerah Jambi. Jambi: Lazuardi Indah Jambi.
Sudrajat, Akhmad. 2010.Tentang Masyarakat Samin. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/masyarakat-samin/). Diakses tanggal 25 September 2011.  
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1984. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Notosusanto, Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho. 1984.




LAMPIRAN
TRANSKRIP WAWANCARA
Pewawancara: Peneliti
Narasumber   : Hardjo Kardi, Sesepuh Ajaran Samin yang sekaligus cucu dari           Surosentiko Samin
Pertanyaan
1.      Bagaimana latar belakang masyarakat Samin itu?
2.      Bagaimana sebenarnya konsep ajaran Sedulur Sikep itu?
3.      Apakah budaya tersebut masih dilestarikan sampai sekarang?
4.      Bagaimana hubungan antar warga di mayarakat sini?
5.      Apakah masyarakat Samin meemiliki tradisi khusus saat perkawinan, atau dalam acara-acara yang lain?
6.      Bagaimana cara masyarakat Samin mewariskan budaya kepada keturunannya?
7.      Bagaimana asal-ususlnya masyarakat ini bisa disebut masyarakat Samin?
8.      Bagaimana harapan/saran anda kepada para masyarakat Indonesia khususnya bagi remaja untuk menjadi masyarakat yang mempunyai budaya Sedulur Sikep?
Jawbaan
1.      Gerakan Samin ini berasal dari pemikiran seorang tokoh yang bernama Samin Surosentiko yang sebenarnya memiliki nama Raden Kohar seorang putra dari Raden Surowijoyo yang sangat membenci Belanda. Tahun 1840 Raden Surowidjojo bertindak sebagai perampok dan menyerahkan hasilnya pada rakyat miskin dan sisanya digunakan untuk mendirikan komunitas Tiyang Sami Amin. Tahun 1859 lahir Raden Kohar anak dari R Surowidjojo yang sering disebut Samin Surosentiko di desa Ploso Kabupaten Blora. Raden Surowidjoyo merupakan putra Raden Mas Adipati Brotodiningrat yang memiliki dua putra yaitu R Ronggowirjodiningrat dan R Surowidjojo.
Kata Samin sendiri berasal dari kata Sami-sami amin. Kata ini dapat diintrepertasikan sebagai sebuah wujud demokrasi yang berlandaskan pada persetujuan bersama sebagai landasan yang sah yang didukung komponen masyarakat banyak. Persetujuan ini ialah persetujuan sekelompok orang yang kemudian sering disebut dengan Suku Samin.
2.      Ajaran Sedulur Sikep adalah ajaran yang dimiliki masyarakat Samin dari zaman colonial Belanda. Ajaran-ajaran ini antara lain orang  Samin  menjunjung tinggi kejujuran, kerukunan, nrimo, menghargai sesamanya sederajat tidak  pernah mengingkari  atau  membenci  agama,  yang  terpenting  adalah  tabiat dalam hidupnya. Jangan  mengganggu  orang,  jangan  bertengkar, jangan  suka  iri  hati  dan  jangan  suka mengambil milik orang lain. Berbuatlah sabar dan jangan sombong, jangan takabbur, jangan mengambil milik  orang  lain  apalagi  mencuri,  mengambil  barang.  Sedangkan menjumpai barang tercecer di jalan di jauhi. Manusia  hidup  harus  memahami  kehidupannya,  sebab  hidup  adalah sama dengan ruh dan hanya satu yang dibawa abadi selamanya. Manusia hidup harus sabar dan tawakkal.
3.      Tentu saja masih, kalau tidak mengapa banyak orang yang datang ke Desa Margomulyo hanya untuk observasi. Kami akan selalu mempertahankan budaya ini, karena ini merupakan warisan nilai-nilai luhur Surosentiko Samin, penggerak gerakan Samin. Kita akan selalu berpegang teguh pada budaya ini, karena saat ini di Indonesia banyak sekali budaya-budaya asing yang mulai meracuni pikiran anak-anak bangsa. Namun budaya-budaya yang kami lakukan saat masa penjajahan Belanda seperti membangkang saat membayar pajak, membangkang saat disuruh kerja bakti sudah kami tinggalkan. Hal-hal yang kami lakukan saat penjajahan Belanda saat itu karena kami tidak suka terhadap pemerintahan Belanda di Indonesia. Kami ingin mengusir mereka. Kalau sekarang Negara kita kan sudah merdeka, maka tentu saja kami tidak membangkang seperti dulu. Namun ajaran-ajaran Samin yang luhur tetap kami lestarikan, seperti kerukunan, gotong royong, dan lain-lain.
4.      Di sini hubungan antar warga sangat baik, tidak pernah ada pertengkaran, konflik atau yang lainnya. Kami di Desa ini hidup dengan rukun, karena kami senantiasa berpegang teguh pada ajaran Sedulur Sikep yang ada pada masyarakat kami. Saat ada salah satu tetangga yang kesulitan, maka kami semua akan gotong royong membantu warga tersebut. Masyarakat kami sangat menyukai persatuan dan kesatuan, namun masyarakat Indonesia tidak pernah mau menjadi satu. Oleh karena itu masyarakat kami sampai sekarang masih tetap berkelompok tujuannya adalah agar kami selalu bersatu, tidak terpecah-pecah dan selalu melaksanakan ajaran Sedulur Sikep. Itulah sebabnya kami memisahkan diri dari masyarakat umum. Kami tidak mau budaya kami hilang ditelan budaya-budaya baru saat ini.
5.      Kami tidak memiliki tradisi khusus, namun yang terpenting dalam sebuah perkawinan adalah bertemunya kedua Bapak dari sang calon pengantin. Jika sudah saling bertemu, maka sudah bisa dilakukan pernikahan, kalau belum maka pernikahan tidak akan dilaksanakan. Dalam budaya kami, tidak ada istilah pacaran atau yang lainnya seperti masyarakat pada umumnya saat ini. Dalam budaya Samin pacaran tidak diperbolehkan, namun saat kedua pasangan sudah saling suka, maka tinggal bilang pada kedua orangtuanya masing-masing. Baru nanti akan dibicarakan masalah pernikahan. Dalam sebuah cara pernikahan dilaksanakan secara sederhana, ada pesta adat Jawa namun hanya sebagai tambahan, bukan yang utama. Baju, aksesoris dan lain sebagainya itu hanya hal tambahan saja yang tidak penting. Berbeda dengan masyarakat sekarang yang menganggap pesta, baju, aksesoris dalam sebuah pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kami lebih menyukai kesederhanaan.
6.      Kami mewariskan budaya-budaya Samin kepada keturunan-keturunan kami. Kepada anak-anak kami yang nantinya akan menggantikan peran kita dalam melestarikan budaya Samin ini.
7.      Kami itu dipanggil Samin karena Ungkapan ini merupakan sebutan untuk masyarakat penganut ajaran Samin, sebagai alternatif masyarakat memanggil kami wong Samin. Kami lebih suka dipanggil sebagai 'Wong Sikep' karena Wong Sikep berarti orang yang baik dan jujur, sebagai alih-alih/pengganti atas sebutan 'Wong Samin' yang mempunyai citra jelek dimata masyarakat Jawa pada masa penjajahan Belanda sebagai kelompok orang yang tidak jujur.
8.      Jadilah masyarakat Indonesia yang baik, yang selalu mempertahankan budaya kita sendiri. Jangan mudah terpengaruh dengan budaya Barat. Indonesia saat ini tidak bisa bersatu karena pemimpinnya, pemimpinnya tidak bisa memberi contoh yang baik kepada masyarakatnya, sehingga saat ini banyak orang yang korupsi, tawuran, dan lain sebagainya. Sebenarnya saya juga tidak suka dengan adanya partai-partai, ataupun orang-orang yang memakai kaos-kaos partai. Hal itu malah meyebabkan perbedaan dalam masyarakat Indonesia. Buktinya saat ini banyak terjadi gontok-gontokan antar partai. Lebih baik Indonesia itu dipimpin oleh satu orang saja, tidak perlu ada partai-partai yang fungsi sebenarnya dari partai sebagai penyalur aspirasi rakyat tidak di jalankan. Alangkah indahnya jika masyarakat Indonesia ini menjadi satu, tidak ada perbedaan. Dan alangkah indahnya jika masing-masing dari tiap individu di Indonesia menyadari akan kerukunan, toleransi, kesederhananaan dan ajaran-ajaran lain dalam budaya Sedulur Sikep. Maka Negara Indonesia akan menjadi Negara yang aman, tentram, dan damai.