SEDULUR
SIKEP:
WARISAN NILAI-NILAI LUHUR GANDHI VAN JAVA
(SUROSENTIKO SAMIN)
“Diajukan
kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah
Universitas
Negeri Malang
Untuk
Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah 2012”
Oleh :
0233 Rina Nur
Cahyani
0192 Ita Agustin
0212 Maya Firdana N.J
SMA NEGERI MODEL
TERPADU BOJONEGORO
NOVEMBER, 2012
LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL
: “SEDULUR SIKEP WARISAN NILAI-NILAI LUHUR GANDHI VAN JAVA (SUROSENTIKO
SAMIN)”
NAMA KETUA : RINA NUR
CAHYANI (0233)
ANGGOTA : 1. ITA AGUSTIN (0192)
2. MAYA
FIRDANA N.J (0212)
Karya tulis ini telah di setujui oleh :
Bojonegoro, 03
November 2012
Mengetahui,
Kepala SMAN MT Bojonegoro Guru
pembimbing
Drs. Mashadi,
M.Pd Aulia
Damayanti
NIP . 1963 0929
198512 1 001
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH S.W.T atas limpahan rahmat, taufik, dan
hidayahNya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis
ilmiah ini. Dengan judul :
SEDULUR
SIKEP: WARISAN NILAI-NILAI LUHUR GANDHI
VAN JAVA (SUROSENTIKO SAMIN)
Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah untuk
mengikuti lomba karya tulis yang diadakan ole Himpunan Jurusan Sejarah
Universitas Negeri Malang pada tahun 2012.
Pembuatan karya tulis ilmiah ini penulis tidak akan dapat
menyelesaikannya dengan baik dan benar tanpa adanya bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak yang berupa petunjuk, bimbingan, pengarahan maupun
fasilitas yang diperoleh dari berbagai sumber seperti : pengalaman dan nasihat
dari para pembimbing.
Pembuatan karya tulis ilmiah ini
didalamnya terdapat berbagai upaya dan langkah penulis untuk menulis
karya ilmiah ini dengan baik dan benar, penulis berupaya menyusun kata-kata dan
halaman agar menjadi karya tulis ilmiah yang sempurna. Penulis menyadari bahwa
karya tulis ini jauh dari kesempurnaan, namun penulis berharap semoga karya
tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis juga bagi para pembaca pada
umumnya.
Penulis tentu memerlukan kritik, saran dari para pembaca, sehingga dapat
digunakan untuk membantu memperbaiki penulisan karya ilmiah yang selanjutnya
menjadi baik dan benar. Apabila ada kalimat yang salah dalam pengetikan karya
tulis ilmiah ini, mohon dimaafkan dan harap menjadi maklum. Akhir kata, harapan
penulis menyusun karya tulis ilmiah ini agar bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.
Bojonegoro, 03 November 2012
Peneliti
ABSTRAK
Cahyani, Rina Nur dkk.
2012.Sedulur
Sikep: Warisan Nilai-Nilai Luhur Gandhi Van Java
(Surosentiko Samin). Bojonegoro: SMAN Model
Terpadu Bojonegoro.
kata kunci: Sedulur Sikep, nilai-nilai luhur, Gandhi Van Java
(Surosentiko Samin)
Saat ini banyak budaya-budaya luhur
tersebut yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia sedang
marak dengan konflik sosial (disintegrasi) yang menjuru kepada perpecahan
maupun konflik sosial lainnya. Hal tersebut sangat di sayangkan karena
Indonesia adalah Negara yang kaya akan pemikiran yang luhur dari
sejarah-sejarah lokal. Salah satu pemikiran yang luhur dari sejarah-sejarah
lokal tersebut adalah ajaran Sedulur Sikep yang dianut oleh masyarakat Samin.
Titik tekan dalam penelitian ini adalah kajian deskriptif filosofi Sedulur
Sikep, reintralisasi nilai-nilai tersebut dan relevansi nilai-nilai luhur
Sedulur Sikep saat ini.
Metode penelitian yang digunakan
dalam kajian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Secara khusus
penelitian ini menggunakan jenis studi kasus karena berupaya mengeksplorasi dan
mendekripsikan suatu objek secara mendalam. Waktu penelitian adalah pada
tanggal 1 November 2012.
Dari penelitian ini diketahui bahwa
terdapat banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Sedulur Sikep,
diantaranya adalah toleransi, kerukunan, kejujuran, kesederhanaan, menghargai
terhadap sesama, serta persatuan dan kesatuan. Salah satu contohnya, nilai
kerukunan dapat kita tanamkan kembali ke generasi muda yang mulai melupakan
budaya itu. Hal tersebut dapat dilakukan melalui metode interaksi sosial,
seperti imitasi, sugessti, identifikasi, simpati, dan empati. Misalnya dengan
cara imitasi, orangtua dapat mengaplikasikan budaya Sedulur Sikep kedalam
kehidupannya sehari-hari, sehingga sang anak dengan tidak sadar akan meniru
perilaku orangtuanya. Dan masih banyak cara-cara yang lain.
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Lembar
Pengesahan..................................................................................... i
Kata Pengantar............................................................................................. ii
Abstrak........................................................................................................ iii
Daftar
Isi…………………………………………………………………. iv
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………… 2
1.3 Batasan Penelitian……………………………………… 2
1.4 Tujuan…………………………………………………... 2
1.5 Manfaat…………………………………………………. 3
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 Latar Belakang Sejarah Masyarakat Samin…………. 4
2.2 Ajaran Masyarakat Samin …………………………... 6
2.3 Surosentiko Samin sebagai Gandhi Van
Java…………… 8
2.4 Teori Interaksi Sosial……………………………………. 9
BAB III : METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian…………………………………… 11
3.2 Data dan Sumber Data………………………………….. 11
3.3 Instrumen Penelitian……………………………………. 12
3.4 Waktu dan Tempat ……………………………………… 12
3.5 Teknik Analisis Data……………………………………. 12
BAB IV : HASIL TEMUAN
4.1 Pandangan Awal Tentang Masyarakat
Samin……………. 13
4.2 Pokok-Pokok Ajaran Surosentiko
Samin………………… 14
4.3 Pelaksanaan Ajaran Surosentiko Samin di Masa
Kolonial
Belanda…………………………………………………… 15
4.4 Cara Mewariskan Nilai-Nilai Ajaran
Samin………………. 16
BAB V : PEMBAHASAN
5.1 Reinternalisasi Nilai-Nilai
Luhur Sedulur Sikep…………. 17
5.2 Relevansi Penanaman
Nilai-Nilai Luhur Sedulur Sikep
Dalam Masyarakat Global Saat
Ini………………………… 18
BAB VI : PENUTUP
6.1 Kesimpulan ………………………………………………. 23
6.2 Saran………………………………………………………. 23
6.2.1 Bagi Pemerintah dan Pihak yang
Terkait………………. 23
6.2.2 Bgi Pendidikan dan Orang Tua………………………… 23
DAFTAR RUJUKAN .................................................................................. 24
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki khasanah tradisi
budaya yang sangat beragam.
Tradisi-tradisi tersebut mengandung nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia. Salah satu pemikiran yang luhur tersebut adalah ajaran Sedulur Sikep
yang dianut oleh masyarakat Samin. Ajaran sedulur sikep memiliki relevansi
dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti kejujuran, gotong royong, solidaritas,
kesatuan dan persatuan.
Namun saat ini, banyak budaya-budaya
luhur tersebut yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia
sedang marak dengan konflik sosial (disintegrasi) yang menjuru kepada
perpecahan maupun konflik sosial lainnya. Sesuai berita di Koran Jawa Pos, tawuran pelajar terjadi di
Jakarta pada 24 September 2012 dengan korban satu orang meninggal, dua hari setelah
itu, juga di Jakarta tapi di lokasi dan kelompok yang berbeda seorang pelajar
meninggal lagi dalam sebuah tawuran. Meninggalnya dua pelajar itu menambah
panjang daftar pelajar yang berpulang sia-sia. Berdasar data dari Komisi
Nasional Perlindungan anak, disepanjang 2012 sedikitnya ada 16 siswa yang tewas
akibat 86 tawuran. Kecuali mati, puluhan luka berat maupun ringan.
Tawuran pelajar seperti tak pernah berhenti. Padahal, itu
sangat merugikan. Selain merugikan sekolah dan pelajar sendiri, kasus itu
merugikan publik yang sangat terganggu. Jika tak ada penyelesaian yang mendasar
dan menyeluruh atas “tradisi” tawuran ini, bukan tak mungkin para pelajar akan
sampai pada kesimpulan bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk
menyelesaikan masalah. Jika ini benar-benar terjadi, akibat jangka panjangnya
bagi negeri ini sudah bisa dibayangkan. Hal
tersebut sangat di sayangkan karena Indonesia adalah Negara yang
kaya akan pemikiran yang luhur dari sejarah-sejarah lokal. Salah satu pemikiran
yang luhur dari sejarah-sejarah lokal tersebut adalah ajaran Sedulur Sikep yang dianut oleh
masyarakat Samin. Masyarakat Samin
merupakan masyarakat yang melakukan perlawanan terhadap Belanda atas
kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Belanda dengan tanpa kekerasan.
Senjata mereka adalah bahasa.
Sikap perjuangan
mereka dapat dilihat dari profil orang samin yakni gaya hidup yang tidak
bergelimpangan harta, tidak menjadi antek Belanda, bekerja keras, berdoa,
berpuasa dan berderma kepada sesama. Ungkapan-ungkapan yang sering diajarkan
antara lain : sikap lahir yang berjalan bersama batin diungkapkan yang berbunyi
sabar,nrimo,rilo dan trokal (kerja
keras), tidak mau merugikan orang lain diungkapkan dalam sikap sepi ing pamrih rame ing gawe dan selalu
hati-hati dalam berbicara diungkapkan ‘Ojo
waton ngomong, ning ngomong kang maton’.
Berdasarkan latar belakang dan uraian tersebut, maka
peneliti tertarik untuk meneliti tentang ajaran Sedulur Sikep dari Surosentiko Samin.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah nilai-nilai luhur dari ajaran Gandhi Van Java (Surosentiko Samin)?
2. Bagaimanakah reinternalisasi dan relevansi
Sedulur Sikep sebagai warisan nilai-nilai luhur Gandhi Van Java (Soerosentiko
Samin)?
1.3 Batasan penelitian
Agar penelitian tidak menyimpang dari bahasan, maka penelitian ini
dibatasi pada masyarakat Samin
yang terdapat di lingkup wilayah Bojonegoro.
1.4 Tujuan
1. Mendeskripsikan apa sajakah nilai-nilai luhur
dari ajaran Gandhi Van Java (Surosentiko Samin).
2. Mendiskripsikan reinternalisasi dan
relevansi Sedulur Sikep sebagai warisan nilai- nilai luhur Gandhi Van Java (Soerosentiko
Samin).
2
.5 Manfaat
1.
Bagi
Masyarakat
Sebagai sarana untuk
mengetahui tergalinya potensi nilai-nilai luhur bangsa sebagai media
pembelajaran dalam Pendidikan Budaya, Karakter Bangsa yang inovatif,
2.
Bagi Siswa
Sebagai bahan
pembelajaran dan kategori ilmu sosial
atau lebih dikenal dengan sosiologi
3.
Bagi
Peneliti
Dapat mengetahui
bagaimana filosofi dari masyarakat Samin dapat digunakan untuk pendidikan moral
masyarakat saat ini.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Latar Belakang Sejarah Masyarakat Samin
Masyarakat Samin ialah satu suku di Jawa
Tengah tepatnya ada di Kabupaten Blora. Saminisme ini berasal dari pemikiran seorang tokoh
yang bernama Samin Surosentiko yang sebenarnya memiliki nama Raden Kohar
seorang putra dari Raden Surowijoyo yang sangat membenci Belanda. Tahun 1840
Raden Surowidjojo bertindak sebagai perampok dan menyerahkan hasilnya pada
rakyat miskin dan sisanya digunakan untuk mendirikan komunitas Tiyang Sami
Amin. Tahun 1859 lahir Raden Kohar anak dari R Surowidjojo yang sering disebut
Samin Surosentiko di desa Ploso Kabupaten Blora. Raden Surowidjoyo merupakan
putra Raden Mas Adipati Brotodiningrat yang memiliki dua putra yaitu R
Ronggowirjodiningrat dan R.Surowidjojo.
Kata Samin sendiri berasal dari kata
Sami-sami amin. Kata ini dapat
diintrepertasikan sebagai sebuah wujud demokrasi yang berlandaskan pada
persetujuan bersama sebagai landasan yang sah yang didukung komponen masyarakat
banyak. Persetujuan ini ialah persetujuan sekelompok orang yang kemudian sering
disebut dengan Suku Samin. Namun, sekarang Suku Samin tidak mau di sebut sebagai
suku Samin maupun masyarakat Samin. Alasan masyarakat Samin tidak mau di
panggil wong Samin karena identik dengan perbuatan tidak terpuji,antara lain 1)
Samin dianggap kelompok yang tidak mau membayar pajak, 2) Sering membantah dan
menyangkal peraturan yang telah di tetapkan, 3) sering keluar masuk penjara, 4)
sering mencuri kayu jati, 5) perkawinan tidak dilakukan menurut tatacara islam.
Mereka lebih suka di sebut sebagai wong
sikep karena
diartikan sebagai orang yang mempunyai rasa tanggung jawab atau bertanggung
jawab. Komunitas
ini telah memiliki system bahasa dan kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat
Blora pada umumnya sehingga dapat dikatakan bahwa samin merupakan suku yang
eksklusif.
Perlawanan terhadap penjajah
kolonial Belanda karena takut akan bergesernya status sosial, hal ini dapat dilihat dari tokoh
penggerak dari Saminisme itu sendiri yang merupakan petani yang tergolong cukup
mampu. Petani yang cukup mampu ini memiliki tanah lebih dari 3 Bahu sedangkan pada saat itu kepemilikan
tanah dibatasi sehingga tanah yang boleh mereka miliki berkurang. Berkurangnya
tanah ini menyebabkan kurangnya kedudukan mereka di mata rakyat karena ukuran
kedudukan saat itu diukur dari luas tanah. Hal ini terkait dengan pengakuan
kedudukan seseorang di mata penduduk desa yaitu pemilik sawah atau tanah yang
luas ialah orang yang sangat tinggi statusnya sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwa tanah merupakan ukuran tinggi rendah status dari masyarakat pedesaan.
Selain dari faktor di atas,
faktor kebencian akan penjajah dan perlakuan sewenang-wenang dari bumi putera
yang menjadi perangkat pemerintah kepada masyarakat menjadi faktor pendorong
dari perlawanan masyarakat Samin. Pada dasarnya Suku Samin merupakan suku yang
menginginkan persamaan derajat antara satu manusia dengan manusia lain. Dalam
hal ini maka gerakan ini menginginkan persamaan derajat antara penduduk pribumi
yaitu petani dan bangsa Belanda beserta kaki tangannya yaitu Bumi Putera atau
pribumi yang menjadi pegawai Belanda.
Secara rohani setiap suku di
Indonesia yang mengharapkan datangnya Ratu Adil juga mengilhami gerakan
perlawanan terhadap kolonial Belanda. Hal ini dapat dilihat dari diangkatnya
Samin Surosentiko sebagai ratu adil dengan gelar Prabu Panembahan Surya Alam
Pada tahun 1907. Dengan diangkatnya Samin Surosentiko sebagai Ratu Adil maka
rakyat menganggap bahwa Samin Surosentiko sebagai panutan yang dapat membawa
keadilan dan kesejahteraan. Akan tetapi menurut Samin Surosentiko sendiri, Ia
tidak mengakui hal itu karena ketika di pengadilan, Samin beserta 8 pengikutnya
tidak mengakui hal tersebut sehingga Belanda tidak dapat memberikan hukuman
yang berat kepada Samin Surosentiko, hanya dengan membuangnya keluar Jawa untuk
meredam gerakan Samin.
Samin sendiri dibagi menjadi
dua berdasarkan karakter perilakunya, yaitu:
(1). Samin Sikep
Suku Samin ini memiliki ciri dengan
tutur bahasa yang halus dan masih memakai bahasa yang santun kepada orang-orang
tua. Salah satu ciri yang lain ialah perlawanan dengan cara perilaku dengan
model niteni (memperhatikan miliknya sendiri). Cara ini konkritnya ialah ketika
ditarik pajak akan hasil buminya maka ia akan menggunakan pola fikir bahwa
tanah yang digarap ialah tanahnya sendiri bukan tanah dari bangsa Belanda mengapa harus membayar pajak
untuk miliknya sendiri. Dapat disimpulkan bahwa Samin sikep dengan cara ini
menolak pajak sebagai bentuk perlawananya.
(2). Samin Sangkah
Suku Samin memiliki karakter yang
berbeda dengan Samin Sikep. Samin Sangkah ditandai dengan tutur bahasa yang
kasar kepada bangsa Belanda dan pribumi pegawai Belanda. Pola dari bahasa kasar
ini dengan memakai bahasa Jawa Ngoko kepada Belanda berserta kaki tanganya.
Pemakaian bahasa ini menunjukan nilai-nilai persamaan derajat yang diusung oleh
suku Samin kepada Belanda. Selain itu yang menjadi ciri dari Samin Sangkah ini
ialah perilaku dengan model logika berdasarkan perspektif mereka sendiri. Pola
ini secara konkrit ialah ketika ditanya berapa jumlah sapi yang dimilikinya
maka ia akan menjawab dua walaupun sebenarnya memiliki sapi lebih dari dua. Hal
ini sesuai asumsi mereka bahwa sapi mereka hanya dua yaitu jantan dan betina.
Perilaku ini dilakukan guna menghindari pajak dari Belanda serta membingungkan
Belanda dalam mencari informasi akan gerakanya.
2.2 Ajaran masyarakat Samin
Ajaran
Ki Samin mengenai kejatmikaan atau
ilmu untuk jiwa dan raga, jasmani dan rohani mengandung 5 saran, yaitu:
1. Jatmiko kehendak yang didasari
usaha pengendalian diri.
2. Jatmiko dalam beribadah kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati sesama makhluk Tuhan.
3. Jatmiko dalam mawas diri,
melihat batin sendiri setiap saat, dapat menyelaraskan dengan lingkungan.
4. Jatmiko dalam menghadapi
bencana/bahaya yang merupakan cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa.
5. Jatmiko untuk pegangan budi sejati.
Menurut Ki Samin ajaran kejatkikaan
tersebut merupakan senjata yang paling baik dan memiliki khasiat yang ampuh,
karena dalam kehidupan itu banyak godaan dari segala arah dan yang tidak aneh
adalah yang berasal dari “Rogo Rapuh” sendiri.
Ki
Samin mengerjakan anak buahnya harus pasrah, semeleh, sabar, narimo ing pandum
seperti air telaga yang tidak bersuara.
Dalam perkumpulan, dalam memberi putunjuk Ki samin
selalu menggunakan tulisan huruf Jawa yang disusun seperti halnya puisi, prosa,
gancaran, dan tembang mocopat.
Seperti di bawah ini yang berbentuk prosa:
“Jer ruh tumuruning tumus winwntu ing
projo nalar, nalar wikan reh kasudarman, hayu ruwuyen badra, nukti-nuting lagon
wirana natyeng kewuh, saka angganingrat”.
Sifat-sifat yang diajarkan selalu menggunakan pertimbangan logika (akal
sehat) antara kewaspadaan dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup seperti
menyusun gending. Perbuatan yang dapat mengatasi hambatan hidup adalah apa saja
yang kita bawa dalam menjalani hidup di dunia.
Salah
satu pegangan/pedoman Ki Samin dirancang dalam tembang pangkur.
“ Soho malih dadya gaman, anggegulang
gelunganing pambudi, polokrami nguwah mangun memangun treping widyo, kasampar
kasandung dugi prayogantuk, ambudya atmaja tama, mugi-mugi dadya kanti”.
Yang artinya: juga menjadi senjata untuk melatik letajaman budi, bisa melalui
perkawinan yang menghasilkan kesanggupan yaitu kegunaan dengan ilmu yang
luhur/baik, karena dalam perkawinan itu kita jatuh bangun dalam berupaya
mencari “cukup” terlebih lagi dalam mengusahakan lahirnya anak cucu yang
nantinya menjadi teman hidup.
Ki Samin memang tidak hanya mengerjakan ilmu kadigdayan
tapi juga mengurusi masalah perkawinan atau hubungan antara pria dan wanita.
Tentang pedoman tingkah laku kehidupan tertulis dalam tembang dandang gulo.
“Pramila sesama kang dumadi, mikani ren
papanng sujana, sajogo tulus pikukuhe, angrengga jagat agung, lelantaran mangun
sukapti, limpade kang sukarso, wisaha anggayun, suko bukamring prajaning wang,
pananduring mukti kapti amiranti dilalah kandiling setya”.
Yang artinya:
adalah kepada sesama makhluk hidup, dengan cara memahami kehidupan
masing-masing, sebaiknya tulus. Cara yang dilakukan adalah memelihara dunia
yang besar dengan membuktikan kepercayaan, mengutamakan kelincahan dan
kemampuan, sering dibuktikan, tidak lain yaitu menanam kebaikan.
Masih banyak ajaran Ki Samin yang lain yaitu seperti buku
primbon yang memuat petunjuk untuk orang hidup tentang kepercayaan terhadap
Tuhan yang menciptakan dunia, tingkah laku dan sifat-sifat orang hidup,
misalnya buku “Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kesejaten, Serat Uri-uri Pambudi
dan Jati Sawit.
Ki Samin dalam mengajar untuk membangun manusia seutuhnya
seperti di atas tersebut, membuktikan bahwa dia memiliki pengetahuan kebudayaan
dan lingkungan. Andalan
Ki Samin adalah Kitab Jamus Kalimosodo yang di tulis oleh Kyai Surowidjojo atau
Samin Sepuh. Terlebih lagi pribadi Ki Samin Sepuh juga terdapat dalam Kitab
tersebut.
Kitab
Jamus Kalimosodo ditulis dengan bahasa Jawa baru yang berbentuk prosa, puisi,
ganjaran, serat mocopat seperti tembang-tembang yang telah ditulis di atas yang
isinya bermacam-macam ilmu yang berguna yang saat sekarang ini banyak disimpan
sesepuh Masyarakat Samin yang berada di Tapelan (Bojonegoro), Kropoduwur
(Blora), Kutuk (Kudus), Gunung Segara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga
Anyar (Lamongan) yang berbentuk lembaran tulisan huruf Jawa yang dipelihara
dengan baik.
Daerah
Kekuasaan Ki Samin Surosentiko sudah semakin luas hingga desa-desa lain. Pada
suatu hari masyarakat Desa Tapelan, Ploso dan juga Tanjungsari mengangkat Ki
Samin menjadi Raja dengan gelar “Prabu Panembahan Suryongalam” yang dapat
menerangi orang sedunia dan yang diangkat sebagai patih merangkap senopati,
kamituwo (Kepala Dusun) Bapangan yang diberi gelar “Suryo Ngalogo” yang
mengajarkan tentang perang. Ini membuktikan bahwa orang Jawa/pribumi dengan sah
memiliki tekad yang utuh berjuang secara tenang (halus).
Ki
Samin Surosentiko dalam menentang penjajah dapat dilihat dalam bermacam-macam
cara. Bila kita melihat bagaimana perbuatan orang-orang
pemerintahan Belanda yang hendak menghabiskan warga Samin yang waktu
itu tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati dan Kudus yang paling banyak di Desa
Tapelan Kecamatan Ngraho Bojonegoro. Namun Ki Samin Surosentiko tidak khawatir
berjuang namun kelihatan diam sepertinya dia melawan tanpa perang. Cara yang
dipakai melawan hanyalah menolak membayar pajak, menolak menyumbang tenaga
untuk pemerintahan Belanda, membantah terhadap peraturan dan dia mendewakan
dirinya sendiri seperti halnya titisan dewa yang suci.
2.3 Soerosentiko Samin sebagai Gandhi Van Java
Selama abad ke-19 dan awal abad ke
20 di Indonesia terus-menerus timbul, pemberontakan, kerusuhan, kegaduhan,
brandalan, dan sebagainya, yang semuanya itu cukup menggoncangkan masyarakat
dan pemerintah pada waktu itu.
Peristiwa-peristiwa tersebut terutama sekali banyak terjadi di daerah
pedesaan. Dapat dikatakan hampir setiap tahun di salah satu daerah terjadi pergolakan dan kerusuhan,
yang sering di wujudkan sebagai tindakan-tindakan-tindakan yang bersifat
agresif dan radikal. Oleh karena itu
pergerakan sosial menjadi gerakan yang bersifat endemis.
Tanah kering di Blora yang
kaya hutan jati itu ternyata memiliki sosok Mahatma Gandhi yang telah membentuk
masyarakat komunalnya seperti Utopia-nya Thomas Robert More.
Sejarah Indonesia telah mencatat perlawanan Samin Surantiko, walau hanya
sedikit.
Sebenarnya orang-orang Samin setelah kematian sang pemimpinnya
yang bernama Samin Surontiko, tidak suka dijuluki Samin. Kata Samin memiliki
konotasi bodoh, tapi bukan kebodohan karena tidak atau kurang cerdas, tetapi
bodoh yang keras kepala dalam mengukuhkan pendirian
mereka. Orang-orang Samin lebih suka dijuluki Wong
Sikep (orang yang bertanggungjawab dalam konotasi baik dan jujur).
Samin yang awalnya nama
seorang pernah melawan kekuasaan dengan cara yang unik itu, kini menjadi kata
juga cemoohan. Kata samin yang menjadi bahan ejekan bisa jadi bersifat politis.
Hal ini diciptkan oleh penguasa yang telah menghancurkan perlawanan tanpa
kekerasan ditambah sebuah ejekan. Samin yang semula adalah berusaha
memanusiakan manusia, telah dijadikan ejekan yang tidak manusiawi
Samin yang kadang diartikan
bodoh ini telah menutupi keharuman nama samin dalam sejarah perlawanan sosial
di Indonesia. Samin adalah sosok gerakan sosial yang nyaris dilupakan dalam
sejarah. Samin bisa disejajarkan dengan Pitung
Robinhood Betawi yang juga
dikecilkan dan nyaris tidak disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Samin telah
meninggalkan masyarakat Samin yang telah dibentuknya lebih dari seabad
lalu. Masyarakat Samin adalah masyarakat eksklusif yang hidup komunial
dibeberapa kabupaten diutara perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Mereka memulai
perlawannya dari sebuah protes atas program perluasan hujan jati oleh pemrintah
kolonial dan pendukung pribuminya. Lama-kelamaan gerakan ini berkembang menjadi
gerakan kebatinan yang menentang segala bentuk formalitas. Seperti administrasi
negara dan lembaga sekolah. Hal menarik dari Samin adalah mereka menolak
membayar pajak. Karena itulah Soerosentiko Samin kami sebut sebagai Gandhi Van
Java.
2.4 Teori Interaksi Sosial
Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan
aksi, berhubungan, atau saling mempengaruhi. Dengan demikian, interaksi sosial
adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara
individu dan individu, antara individu dan kelompok, dan antara kelompok dan
kelompok.
Faktor-faktor
pendorong interaksi sosial:
1. Imitasi
Imitasi adalah
suatu tindakan meniru orang lain. Imitasi atau perbuatan meniru bisa dilakukan
dengan bermacam-macam bentuk. Misalnya, gaya bicara, tingkah laku, adat, dan
kebiasaan, pola pikir, serta apa saja yang dimiliki atau dilakukan oleh
seseorang. Namun demikian, dorongan seseorang untuk meniru orang lain tidaklah
berjalan dengan sendirinya. Perlu ada sikap menerima, sikap mengagumi, dan
sikap menjunjung tinggi apa yang akan diimitasi itu.
2. Sugesti
Sugesti
berlangsung apabila seseorang memberi pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu
diterima oleh orang lain. Biasanya, sugesti muncul ketika si penerima sedang
dalam kondisi yang tidak netral sehingga tidak dapat berpikir secara rasional.
Segala anjuran atau nasehat yang diberikan langsung diterima dan diyakini.
3. Identifikasi
Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan
seorang untuk menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan).
Identifikasi sifatnya lebih mendalam dibandingkan imitasi, karena proses
identifikasi, kepribadian seseorang bisa terbentuk. Orang melakukan proses
identifikasi karena sering kali memerlukan tipe ideal tertentu dalam hidupnya.
4. Simpati
Simpati
merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain.
Melalui proses simpati, seseorang merasa dirinya seolah-olah berada dalam
keadaan orang lain dan merasakan apa yang dialami, dipikirkan, atau dirasakan
orang lain tersebut. Dalam proses ini, perasaan memegang peran penting walaupun
alasan utamanya adalah rasa ingin memahami dan bekerja sama dengan orang lain.
5. Empati
Empati merupakan simpati mendalam yang dapat mempengaruhi
kejiwaan dan fisik seseorang. Empati sering disamakan dengan simpati, namun
sebenarnya keduanya berbeda. Empati sifatnya lebih dalam daripada simpati.
BAB III
METODE
PENELITIAN
1.1 Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang kami gunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif
berusaha menggambarkan suatu gejala sosial, dengan
kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang
tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi
yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta
lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah (Husein Umar, 1999:81).
Sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan pada studi kasus yang merupakan
penelitian yang rinci mengenai suatu obyek tertentu selama kurun waktu tertentu
dengan cukup mendalam dan menyeluruh. Studi kasus ialah suatu pendekatan yang
bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari obyek, artinya data
yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai suatu keseluruhan
yang terintegrasi, di mana tujuannya adalah untuk memperkembangkan pengetahuan
yang mendalam mengenai obyek yang bersangkutan yang berarti bahwa studi kasus
harus disifatkan sebagai penelitian yang eksploratif dan deskriptif.
3.2 Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
1.
Data Primer merupakan hasil
catatan hasil observasi langsung, yaitu pengamatan dengan mencari lokasi yang di
huni oleh wong sikep yang masih memegang teguh dasar-dasar sedulur sikep sehingga
peneliti melakukan pengamatan langsung pada tingkah laku mereka.
2.
Data sekunder berasal penelitian dan penelitian yang
telah dilakukan
3.3
Instrumen Penelitian
Instrumen utama penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti
sebagai instrumen kunci yang mengumpulkan data dan menganalisis data. Sedangkan
instrumen sekunder antara lain dengan menggunakan pedoman observasi/pengamatan,
pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi.
3.4 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1
November 2012 di Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro,
Jawa Timur.
Alasan pemilihan lokasi ini karena faham
Saminisme berkembang dengan baik ,terdapat sesepuh Saminisme, dan kebudayaan
sikep di desa ini masih sangat kental.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis
data yang dilakukan adalah dengan cara menggunakan pola penafsiran induktif,
yakni setelah observasi, peneliti melakukan analisis dan penyimpulan yang
didasarkan pada kajian teori yang digunakan.
BAB
IV
HASIL
TEMUAN
4.1
Pandangan awal tentang masyarakat Samin
Masyarakat setempat memandang sebelah mata tentang
masyarakat Samin. Mereka menganggap, masyarakat Samin adalah masyarakat yang
aneh, gila, bodoh, terbelakang dan terisolir. Masyarakat Bojonegoro sering
menggunakan istilah “nyamin” saat ada sesuatu hal yang dianggap kurang baik,
misalnya ada orang yang tidak jelas bahasanya ,bodoh dll. Hal tersebut
seakan-akan sudah menjadi kebiasaan di masyarakat setempat.
Kata nyamin ini diambil dari kata Samin, mereka
menggunakan kata nyamin karena menurut mereka masyarakat Samin adalah masyarakat
yang nyeleneh, dan beda dari masyarakat secara umumnya. Mereka menganggap
setiap hal-hal yang buruk itu sama dengan masyarakat Samin. Masyarakat setempat
menganggap perilaku-perilaku yang dilakukan masyarakat Samin saat melawan
penjajahan Belanda adalah cara yang aneh dan tidak biasa. Karena seperti yang
kita ketahui, masyarakat Samin melawan penjajahan Belanda dengan tanpa
mengangkat senjata. Melainkan senjata yang mereka gunakan adalah bahasa (bahasa
ngoko) dan perilaku-perilaku yang aneh.
Masyarakat Samin dianggap gila, karena omongan mereka
yang tidak pernah nyambung, misalnya saat ditanya “Kang mau kemana?”, maka
jawaban mereka “mau kedepan”.
Masyarakat
Bojonegoro menganggap masyarakat Samin bodoh, karena menurut mereka, masyarakat
Samin tidak pernah mematuhi aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintahan
Belanda. Misalnya saat disuruh memindahkan gundukan batu, maka mereka hanya
akan memindahkannya satu.
Perilaku-perilaku yang dilakukan masyarakat Samin ini karena
ada alasan tersendiri, yaitu mereka tidak mau terjadi kerusuhan, pertengkaran,
dan pertumpahan darah. Sehingga mereka lebih memilih untuk tidak mengangkat
senjata dan memilih melawan Belanda dengan omongan dan perilaku yang unik.
Masyarakat samin juga kental dengan toleransi, mereka menganggap setiap agama
adalah sama, sehingga mereka mempercayai agama Adam. Masyarakat Samin juga
sangat suka pada kerukunan, solidarits, dan persatuan. Contohnya mereka selalu
gotong royong dengan sesama tetangga, misalnya saat ada tetangga yang
kesulitan, maka semuanya membantu.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, bahwa sebenarnya
masyarakat samin adalah masyarakat yang mempunyai budaya-budaya yang luhur. Hal
ini tentu saja sangat bertentangan dengan anggapan-anggapan masyarakat sekarang
terhadap Masyarakat Samin. Oleh karena itu ada baiknya mulai saat ini, kita
tidak menggunakan istilah nyamin untuk menyebut hal-hal yang buruk.
4.2
Pokok-pokok ajaran Surosentiko Samin
Dalam setiap menyampaikan
pokok-pokok ajaran kepada pengikutnya,
Surosentiko
Samin menggunakan
metode
ceramah (sesorah) di
rumah atau di tanah lapang. Hal ini dilakukan karena
orang Samin tidak tau menulis dan membaca pokok-pokok ajaran dari Surosentiko
Samin yang kemudian diikuti oleh penerusnya yaitu
Wongsorejo (Jiwan, Madiun,
tahun 1908), Surohidin (menantu)
dan Engkrek (Grobogan,
1911), Karsiyah (Pangeran Sendang Janur, di Kayen, Pati,
1911). Pokok-pokok ajaran
Surosentiko Samin adalah sebagai berikut:
a. Agama
kui gaman, adam
pangucape, man gaman
lanang (Agama adalah senjata
atau pegangan hidup).
Paham Samin tidak
membeda-bedakan agama, oleh
karena itu orang
Samin tidak pernah mengingkari atau
membenci agama, yang
terpenting adalah tabiat dalam hidupnya.
b. Aja
drengki srei, tukar
padu, dahpe. Kemeren,
Aja kuntil
jumphut, bedhog nyolong (Jangan
mengganggu orang, jangan
bertengkar, jangan suka iri
hati dan jangan
suka mengambil milik orang lain)
c. Sabar
lan trokel ampun
ngantos drengki srei,
umpun ngantos riyo sapada,
empun nganti pek-pinepek,
kutil jumput bedhog
nyolong. Nopo maleh bedhog
colong napa milik
barang, nemu barang
teng dalam mawon kulo simpangi.
(Berbuatlah sabar dan jangan sombong, jangan menganggu orang lain dan
janga takabbur, jangan mengambil milik
orang lain apalagi
mencuri, mengambil barang.
Sedangkan menjumpai barang tercecer di jalan di jauhi).
d. Wong
urip kudu ngerti
uripe, sebab urip
siji digowo selawase (Manusia hidup
harus memahami kehidupannya,
sebab hidup adalah sama dengan ruh dan hanya satu yang
dibawa abadi selamanya)
e. Wong
enom mati uripe
titip seng urip.
Bayi uda nangis
nger niku sukma ketemu raga. Dadi
mulane wong niku mboten mati, nek ninggal sandhangan niku
nggih. Kedah sabar
lan trokol seng
diarah turune. Dadi ora mati
nanging kumpul seng urip. Apik wong selawase sepisan dadi wong
selawase dadi wong.
(Kalau anak muda
meninggal dunia, rohnya dititipkan
ke roh yang
hidup. Bayi menangis
itu tanda bertemunya roh
dengan raga. Karena
itu roh orang
yang meninggal tidaklah meninggal,
hanya meninggalkan pakaiannya.
Manusia hidup harus sabar dan tawakkal untuk keturunannya. Jadi roh itu
tidak mati melainkan berkumpul dengan roh yang masih hidup. Sekali orang itu
berbuat baik, selamanya akan menjadi orang baik)
f. Pangucap
saka lima bundhelane
ana pitu, lan
pangucap saka sanga bundhelane ana
pitu, (ibaratnya orang berbicara dari
angka lima berhenti pada
angka tujuh, dan
angka Sembilan juga
berhenti pada angka tujuh).
Artinya merupakan isyarat
atau simbol bahwa
manusia berbicara harus menjaga mulut.
4.3 Pelaksanaan Ajaran Surosentiko
Samin di Masa Kolonial Belanda
Pada saat penjajahan kolonial
Belanda, banyak terdapat gerakan-gerakan perlawanan yang dilakukan oleh
kelompok-kelompok masyarakat. Gerakan-gerakan tersebut seperti, gerakan Ratu
Adil, gerakan Sekte Keagamaan, Gerakan Samin dll. Kebanyakan
pergerakan-pergerakan tersebut melawan penjajahan Belanda dengan mengangkat
Senjata. Namun berbeda dengan gerakan Samin, mereka melawan penjajahan Belanda
dengan tanpa kekerasan. Tapi, mereka mengunakan bahasa sebagai senjata mereka. Perang
ini tidak menggunakan senjata dengan alasan mereka tidak mau membunuh orang,
harus sabar. Perang ini bisa di sebut perang Sirep (Bahasa Jawa).
4.4 Cara mewariskan nilai – nilai ajaran Samin
Nilai-nilai ajaran Samin diwariskan
kepada keturunan dengan pitutur (Nasehat-nasehat). Pewaris Ajaran-ajaran
tersebut adalah siapa saja yang mau dan mampu menerapkan, melestarikan ajarannya serta menanamkan
ajaran tersebut di dalam diri masyarakat.
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Reinternalisasi Nilai-nilai Luhur Sedulur Sikep
Sesuai dengan nilai-nilai luhur Sedulur Sikep yang
dimliki masyarakat Samin yang diuraikan
di
atas. Dapat kita ketahui, ternyata banyak nilai-nilai luhur yang sebenarnya perlu kita tanamkan kembali
dalam budaya masyarakat Indonesia, untuk menumbuhkan kembali budaya-budaya
Indonesia yang sudah mengalami pergeseran sebagai akibat dari globalisasi.
Budaya-budaya Sedulur Sikep yang dapat kita tanamkan
kembali adalah seperti, sabar,
rukun, kejujuran, gotong royong, solidaritas, kesatuan dan persatuan,
menghargai sesama sederajat, dan kesederhanaan.
Budaya-budaya tersebut dapat kita
tanamkan dengan interaksi
sosial. Cara-cara
yang dapat kita gunakan untuk menanamkan nilai Sedulur Sikep ini, adalah
melalui metode interaksi sosial, yaitu imitasi, suggesti, identifikasi,
simpati, dan empati.
1.
Imitasi
Reinternalisasi
,melalui imitasi dapat dilakukan oleh orang tua, pendidik, dan pemerintah.
Untuk orang tua dapat berperilaku dan bersikap sesuai dengan ajaran Sedulur
Sikep, seperti berperilaku jujur, rukun dengan tetangga, dan toleransi.
Sehingga secara otomatis, anak meniru perilaku orang tua. Untuk pendidik dapat
berperilaku sesuai dengan ajaran Sedulur Sikep. Sehingga secara otomatis, anak
meniru perilakunya. Untuk pemerintah
hendaknya tidak menggunakan identitas atau hal-hal lain yang mencerminkan ciri
suatu golongan. Tidak menggunakan kaos partai dan lain-lain. karena setelah
menjadi pemimpin seluruh warga adalah anak (asuhan) nya. Sehingga masyarakat
dapat meniru untuk menganggap semuanya sederajat.
2. Suggesti
Reinternalisasi
,melalui sugesti dapat dilakukan oleh orang tua dengan menasehati anaknya,
sesuai dengan ajaran-ajaran Sedulur Sikep. Untuk pemerintah dan pihak terkait
dapat membuat poster-poster maupun iklan yang mempunyai makna ajaran Sedulur
Sikep.
3. Identifikasi
Reinternalisasi
dengan identifikasi dapat dilakukan melalui individu-individu tertentu yang
dianggap istimewa/digemari oleh orang atau sekelompok orang, seperti artis,
atlet, pengusaha,dll. Mereka tersebut hendaknya mempunyai sikap sesuai dengan
ajaran Sedulur Sikep. Dengan demikian diharapkan penggemar bisa meniru secara
keseluruhan penampilan secara khususnya dan sikap secara umumnya.
4. Simpati
Reinternalisasi
dengan simpati dapat dilakukan individu yang mempunyai peran penting dalam diri
seseorang dengan cara menceritakan atau memberitahukan hal-hal yang menarik
dari Sedulur Sikep. Sehingga seseorang bisa tertarik terhadap hal tersebut.
5. Empati
Reinternalisasi
dengan dengan empati dapat dilakukan oleh pendidik. Pendidik dapat membuat
program dimana mengajak siswanya untuk mngunjungi maupun tinggal sementara di
tempat pemukiman wong sikep sehingga mereka dapat mengetahui pola perilaku dan
kehidupan mereka. Dan diharapkan mereka dapat meniru hal-hal tersebut.
5.2
Relevansi Penanaman Nilai-nilai luhur sedulur sikep dalam masyarakat Global
saat ini
Saat ini dalam masyarakat Global, terdapat banyak
permasalahan-permasalahan yang rumit.
Beberapa contohnya adalah :
1. Persaingan
(competition)
Persaingan
adalah perjuangan berbagai pihak untuk mencapai tujuan tertentu. Persaingan
mempunyai dua tipe, yaitu yang bersifat pribadi dan bersifat non pribadi. Tipe
yang bersifat pribadi mempunyai arti individu akan bersaing secara langsung,
misalnya persaingan anggota untuk memperoleh kedudukan-kedudukan tertentu dalam
sebuah organisasi. Contoh: saat ini di Indonesia sedang maraknya persaingan
partai untuk mendapat kedudukan tertinggi atau jabatan tertentu di Indonesia.
2. Kontravensi
(contravention)
Kontravensi pada
hakekatnya adalah suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan
pertentangan. Ditandai dengan adanya ketidakpuasan dan ketidakpastian mengenai
diri seseorang, rencana, perasaan tidak suka yang disembunyikan, atau kebencian
dan keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Contoh: perang dingin antara
anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
3. Pertentangan
atau konflik (conflict)
Pertentangan
atau konflik adalah suatu perjuangan individu atau kelompok sosial untuk
memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Biasanya, konflik disertai
dengan ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi karena ada perbedaan pendapat,
perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu maupun
kelompok, dan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang cepat yang menimbulkan
disorganisasi sosial. Contoh: pertentangan yang terjadi antarpartai politik
menjelang pemilu, atau pertentangan antar Negara.
4. Desintegrasi
Ilmu Pengetahuan
Kehidupan
modern ditandai oleh adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan.
Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma (cara pandang) nya sendiri
dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Jika seseorang menghadapi masalah lalu
ia pergi kepada kaum teolog, ilmuan, politisi, sosiolog, ahli biologi, psikolog
dan lain-lain. maka jawaban yang ia dapatkan akan berbeda satu sama lain.
Bahkan terkadang jawaban tersebut sering bertolak belakang. Inilah yang akan
membuat manusia kebingungan.
5. Kepribadian
Yang Terpecah
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu
pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak. Ini
akan menyebabkan manusia menjadi pribadi yang terpecah (split personality).
Kehidupan manusia modern diatur menurut rumus ilmu ynag eksak dan kering.
Akibatnya, kini tengah menggelinding proses hilangnya kekayaan rohaniah.
Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah kendali agama.
Maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan. Dengan
berlangsungnya proses tersebut, semua kekuatan yang lebih tinggi untuk
meningatkan derajat kehidupan manusia akan musnah. Sehingga, tidak hanya
kehidupan kita yang mengalami kemerosotan, tetapi juga kecerdasan dan moral
kita.
6. Penyalahgunaan
IPTEK
Sebagai
akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual,
maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya. Kemampuan
membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan suatu bangsa atau
bangsa lain, subversi dan lain-lain. Kemampuan dibidang rekayasa genetika
diarahkan untuk tujuan jual-beli manusia. Kecanggihan dibidang teknologi
komuniasi dan lain-lain telah menghancurkan umat manusia.
7. Pendangkalan
Iman
Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan yang
disebut diatas, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang
bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya. Ia tidak tersentuh oleh
informasi yang diberikan oleh wahyu. Bahkan informasi yang dibawa oleh wahyu
itu menjadi bahan tertawaan dan diannggap tidak ilmiah dan kampungan.
8. Pola
Hubungan Materialistik
Semangat
persaudaraan dan rasa saling tolong-menolong yang didasarkan atas panggilan
iman sudah tidak tampak lagi. Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh
seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat
material.
Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak
diukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara
materialis. Akibatnya ia menempatkan perimbangan material diatas pertimbangan
akal sehat, hati nurani, kemanusiaan dan imannya.
9. Penghalalan
Segala Cara
Sebagai
imbas atas pola hidup yang matelialis dan dangkalnya iman seseorang, maka
seseorang akan mengedepankan segala yang sekiranya mampu memenuhi kebutuhannya.
Termasuk dalam hal ini adalah dengan menghalalkan segala cara tanpa memikirkan
dampak spiritual bagi dirinya sendiri.
10. Stress
dan Frustasi
Kehidupan
modern yang demikian kompleks menggiring manusia untuk mengarahkan seluruh
fikiran, tenaga, kemampuan. mereka terus bekerja dan memenuhi hasrat tanpa
mengenal batas dan waktu. Dampaknya, mereka begitu mendewakan sesuatu yang
bersifat duniawi. Dan ketika segala yang mereka gagal, mereka cenderung
tertekan dalam dinaamika zaman.
Hal buruk lainnya, karena dari awal mereka tidak mempunyai pegangan yang jelas
maka ketika hancurpun mereka tetap tidak memiliki pegangan yang bisa di jadikan
dasar. Sehingga nantinya mereka akan frustasi akan segala hal buruk yang
menimpa mereka.
11. Kehilangan
Harga Diri dan Masa Depannya
Terdapat
sejumlah orang yang terjerumus dan salah memilih jalan. Masa mudanya dihabiskan
untuk menuruti hawa nafsu dan segala daya dan cara telah ditempuhnya. Ada suatu
saat dimana ia sudah tua renta. Secara fisik sudah tak lagi berdaya. Tenaga
sudah tidak mendukung lagi untuk beraktifitas. Manusia yang demikian ini akan
merasa kehilangan harga diri dan masa depannya. Kemana ia harus berjalan? ia
tidak tahu. Mereka perlu bantuan dari kekuatan yang berada di luar dirinya. Dan
hal Itu adalah bantuan dari Tuhan.
12. Kriminalitas anak remaja
Pelaku
kriminal dari kalangan remaja dan anak-anak meningkat pesat. Berdasarkan data
yang ada, terhitung sejak Januari hingga Oktober 2009, meningkat 35%
dibandingkan tahun sebelumnya, Pelakunya rata-rata berusia 13 hingga 17 tahun. Kenakalan
remaja lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologi, dengan terlihat banyaknya
yang terjadi pada mereka yang memiliki masalah dalam keluarga atau pergaulan
yang tidak bisa mereka atasi, kemudian mereka melakukan pelarian yang salah.
Entah itu sebagai bentuk protes atau cara mereka untuk mencari perhatian. Dan
mereka juga memiliki emosi yang tidak bisa mereka kendalikan dalam menghadapi
masalah tersebut. Tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Mereka ingin
melakukan segala hal sesuai dengan apa yang di benak mereka.
Uraian
diatas menunjukkan ketidaksesuaian budaya saat ini dengan nilai-nilai luhur
bangsa, nilai-nilai luhur bangsa mulai luntur tergerus modernisasi di segala
bidang yang menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan sosial. Menurut Hardjo Kardi,
penerus ajaran Samin di desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo, kabupaten
Bojonegoro, Sedulur Sikep dapat di terapkan untuk menghadapi masalah-masalah
sosial saat ini. Karena ajaran Sedulur Sikep mengajarkan kesabaran, kerukunan,
Kesederhanaan, toleransi, menghargai sesamanya sederajat, dan keadilan. Ajaran-ajaran tersebut
mencerminkan Pancasila sebagai pandangan hidup kita. Oleh karena itu hendaknya
perhatian kepada nilai-nilai sedulur Sikep sebagai perwujudan karakter bangsa
lebih di tekankan. Karena nilai-nilai Sedulur Sikep dapat menjadi alternative
untuk menjawab permsalahan sosial saat ini.
BAB VI
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
Nilai-nilai luhur
dari ajaran Surosentiko Samin antara lain adalah sabar, rukun, kejujuran, gotong
royong, solidaritas, kesatuan dan persatuan, menghargai sesama sederajat, dan
kesederhanaan. Nilai-nilai tersebut
perlu dilestarikan karena nilai-nilai tersebut adalah ciri khas masyarakat
Indonesia.
Budaya-budaya tersebut dapat kita lestarikan dengan cara menanamkan budaya tersebut dimulai dari diri kita sendiri, kemudian
ke keluarga, tetangga-tetangga, baru kemudian ke masyarakat luas. Karena jika
dalam setiap diri masyarakat indonesia tertanam setiap kebudayaan yang baik
seperti kebudayaan Sedulur Sikep, maka masyarakat Indonesia akan damai. Selain itu dengan di
lestarikankannya nilai-nilai sedulur sikep yang mempunyai keidentikan dengan
dasar Negara kita yaitu “Pancasila” diharapkan dapat membendung arus budaya
modern yang kurang memiliki karakter kebangsaan.
6.2 SARAN
6.2.1 Bagi Pemerintah dan Pihak yang Terkait
Hendaknya
lebih mengembangkan nilai-nilai luhur budaya lokal karena mengandung
nilai-nilai moral yang dapat membenahi karakter bangsa yang mulai jauh dari
cermin budaya lokal Indonesia, dengan cara membentuk bibit tunas bangsa yang
berkarakter melalui pelestarian nilai-nilai luhur budaya lokal. Masyarakat
Indonesia patutlah menjadi masyarakat dinamis yang tetap melestarikan budaya
lokal agar terbentuk bangsa yang berkarakter.
6.2.2
Bagi Orang Tua
Hendaknya
para orang tua menanamkan nilai-nilai budaya lokal dalam diri mereka, selain
itu orang tua di harapkan juga menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian anak bisa meniru yang akhirnya juga akan membangun
karakter individu
DAFTAR RUJUKAN
Budaya Samin. (file:///D:/Budaya Samin dalam Layar Putih.htm).Diakses tanggal 30 Oktober
2012.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1984. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Notosusanto, Marwati Djoened
Poesponegoro Nugroho
Kurnia, Ahmad. 2007.
Menejemen Penelitian. (http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2007/11/penelitian-kualitatif-metode-kualitatif.html).Diakses
tanggal 29 Oktober 2012.
---------.
2012. Pengertian Interaksi Sosial. (http://karodalnet.blogspot.com/2011/10/pengertian-Interansi-sosial.html).Diakses tanggal 29 September 2012.
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.1997. Pembinaan Nilai-nilai Budaya Melalui
Permainan Rakyat di Daerah Jambi. Jambi: Lazuardi Indah Jambi.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1984.
Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta:
Notosusanto, Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho. 1984.
LAMPIRAN
TRANSKRIP WAWANCARA
Pewawancara: Peneliti
Narasumber : Hardjo Kardi, Sesepuh Ajaran Samin yang
sekaligus cucu dari Surosentiko
Samin
Pertanyaan
1.
Bagaimana latar
belakang masyarakat Samin itu?
2.
Bagaimana sebenarnya
konsep ajaran Sedulur Sikep itu?
3.
Apakah budaya tersebut
masih dilestarikan sampai sekarang?
4.
Bagaimana hubungan
antar warga di mayarakat sini?
5.
Apakah masyarakat Samin
meemiliki tradisi khusus saat perkawinan, atau dalam acara-acara yang lain?
6.
Bagaimana cara
masyarakat Samin mewariskan budaya kepada keturunannya?
7.
Bagaimana asal-ususlnya
masyarakat ini bisa disebut masyarakat Samin?
8.
Bagaimana harapan/saran
anda kepada para masyarakat Indonesia khususnya bagi remaja untuk menjadi
masyarakat yang mempunyai budaya Sedulur Sikep?
Jawbaan
1.
Gerakan Samin ini berasal dari pemikiran seorang
tokoh yang bernama Samin Surosentiko yang sebenarnya memiliki nama Raden Kohar
seorang putra dari Raden Surowijoyo yang sangat membenci Belanda. Tahun 1840
Raden Surowidjojo bertindak sebagai perampok dan menyerahkan hasilnya pada
rakyat miskin dan sisanya digunakan untuk mendirikan komunitas Tiyang Sami
Amin. Tahun 1859 lahir Raden Kohar anak dari R Surowidjojo yang sering disebut
Samin Surosentiko di desa Ploso Kabupaten Blora. Raden Surowidjoyo merupakan
putra Raden Mas Adipati Brotodiningrat yang memiliki dua putra yaitu R
Ronggowirjodiningrat dan R Surowidjojo.
Kata Samin sendiri berasal dari kata Sami-sami amin. Kata ini dapat
diintrepertasikan sebagai sebuah wujud demokrasi yang berlandaskan pada
persetujuan bersama sebagai landasan yang sah yang didukung komponen masyarakat
banyak. Persetujuan ini ialah persetujuan sekelompok orang yang kemudian sering
disebut dengan Suku Samin.
2.
Ajaran Sedulur Sikep
adalah ajaran yang dimiliki masyarakat Samin dari zaman colonial Belanda.
Ajaran-ajaran ini antara lain orang
Samin menjunjung tinggi kejujuran, kerukunan, nrimo,
menghargai sesamanya sederajat tidak pernah mengingkari atau
membenci agama, yang
terpenting adalah tabiat dalam hidupnya. Jangan mengganggu
orang, jangan bertengkar, jangan suka
iri hati dan
jangan suka mengambil milik orang
lain. Berbuatlah sabar dan jangan sombong, jangan takabbur, jangan mengambil
milik orang lain
apalagi mencuri, mengambil
barang. Sedangkan menjumpai
barang tercecer di jalan di jauhi. Manusia
hidup harus memahami
kehidupannya, sebab hidup
adalah sama dengan ruh dan hanya satu yang dibawa abadi selamanya.
Manusia hidup harus sabar dan tawakkal.
3.
Tentu saja masih, kalau
tidak mengapa banyak orang yang datang ke Desa Margomulyo hanya untuk
observasi. Kami akan selalu mempertahankan budaya ini, karena ini merupakan
warisan nilai-nilai luhur Surosentiko Samin, penggerak gerakan Samin. Kita akan
selalu berpegang teguh pada budaya ini, karena saat ini di Indonesia banyak
sekali budaya-budaya asing yang mulai meracuni pikiran anak-anak bangsa. Namun
budaya-budaya yang kami lakukan saat masa penjajahan Belanda seperti
membangkang saat membayar pajak, membangkang saat disuruh kerja bakti sudah
kami tinggalkan. Hal-hal yang kami lakukan saat penjajahan Belanda saat itu
karena kami tidak suka terhadap pemerintahan Belanda di Indonesia. Kami ingin
mengusir mereka. Kalau sekarang Negara kita kan sudah merdeka, maka tentu saja
kami tidak membangkang seperti dulu. Namun ajaran-ajaran Samin yang luhur tetap
kami lestarikan, seperti kerukunan, gotong royong, dan lain-lain.
4.
Di sini hubungan antar
warga sangat baik, tidak pernah ada pertengkaran, konflik atau yang lainnya.
Kami di Desa ini hidup dengan rukun, karena kami senantiasa berpegang teguh
pada ajaran Sedulur Sikep yang ada pada masyarakat kami. Saat ada salah satu
tetangga yang kesulitan, maka kami semua akan gotong royong membantu warga
tersebut. Masyarakat kami sangat menyukai persatuan dan kesatuan, namun
masyarakat Indonesia tidak pernah mau menjadi satu. Oleh karena itu masyarakat
kami sampai sekarang masih tetap berkelompok tujuannya adalah agar kami selalu
bersatu, tidak terpecah-pecah dan selalu melaksanakan ajaran Sedulur Sikep.
Itulah sebabnya kami memisahkan diri dari masyarakat umum. Kami tidak mau
budaya kami hilang ditelan budaya-budaya baru saat ini.
5.
Kami tidak memiliki
tradisi khusus, namun yang terpenting dalam sebuah perkawinan adalah bertemunya
kedua Bapak dari sang calon pengantin. Jika sudah saling bertemu, maka sudah
bisa dilakukan pernikahan, kalau belum maka pernikahan tidak akan dilaksanakan.
Dalam budaya kami, tidak ada istilah pacaran atau yang lainnya seperti
masyarakat pada umumnya saat ini. Dalam budaya Samin pacaran tidak
diperbolehkan, namun saat kedua pasangan sudah saling suka, maka tinggal bilang
pada kedua orangtuanya masing-masing. Baru nanti akan dibicarakan masalah
pernikahan. Dalam sebuah cara pernikahan dilaksanakan secara sederhana, ada
pesta adat Jawa namun hanya sebagai tambahan, bukan yang utama. Baju, aksesoris
dan lain sebagainya itu hanya hal tambahan saja yang tidak penting. Berbeda
dengan masyarakat sekarang yang menganggap pesta, baju, aksesoris dalam sebuah
pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kami lebih menyukai kesederhanaan.
6.
Kami mewariskan
budaya-budaya Samin kepada keturunan-keturunan kami. Kepada anak-anak kami yang
nantinya akan menggantikan peran kita dalam melestarikan budaya Samin ini.
7.
Kami itu dipanggil
Samin karena Ungkapan
ini merupakan sebutan untuk masyarakat penganut ajaran Samin, sebagai
alternatif masyarakat memanggil kami wong Samin. Kami lebih suka dipanggil
sebagai 'Wong Sikep' karena Wong Sikep berarti orang yang baik dan jujur,
sebagai alih-alih/pengganti atas sebutan 'Wong Samin' yang mempunyai citra
jelek dimata masyarakat Jawa pada masa penjajahan Belanda sebagai kelompok
orang yang tidak jujur.
8.
Jadilah masyarakat
Indonesia yang baik, yang selalu mempertahankan budaya kita sendiri. Jangan
mudah terpengaruh dengan budaya Barat. Indonesia saat ini tidak bisa bersatu
karena pemimpinnya, pemimpinnya tidak bisa memberi contoh yang baik kepada
masyarakatnya, sehingga saat ini banyak orang yang korupsi, tawuran, dan lain
sebagainya. Sebenarnya saya juga tidak suka dengan adanya partai-partai, ataupun
orang-orang yang memakai kaos-kaos partai. Hal itu malah meyebabkan perbedaan
dalam masyarakat Indonesia. Buktinya saat ini banyak terjadi gontok-gontokan
antar partai. Lebih baik Indonesia itu dipimpin oleh satu orang saja, tidak
perlu ada partai-partai yang fungsi sebenarnya dari partai sebagai penyalur
aspirasi rakyat tidak di jalankan. Alangkah indahnya jika masyarakat Indonesia
ini menjadi satu, tidak ada perbedaan. Dan alangkah indahnya jika masing-masing
dari tiap individu di Indonesia menyadari akan kerukunan, toleransi,
kesederhananaan
dan ajaran-ajaran lain dalam budaya Sedulur Sikep. Maka Negara Indonesia akan
menjadi Negara yang aman, tentram, dan damai.